Tampilkan postingan dengan label AJARAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AJARAN. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Desember 2013

Kisah Syeh Siti Jenar Debat Agama dengan Ki Kebo Kenongo by Slamet Priyadi


Syeh Siti Jenar by SP091257

Pusaka Leluhur - Rabu, 25 Des. 2013 - 16:22 - Kisah ini berawal ketika Ki Kebokenongo yang dikenal juga dengan sebutan Ki Ageng Pengging berniat memberontak terhadap penguasa Demak, Sultan Bintoro. Berita tentang  pemberontakan yang akan dilakukan Ki Kebokenongo itu sampai juga ke telinga Syeh Siti Jenar.  Maka Syeh Siti Jenar pun berangkat ke Pengging  menemui Ki Kebokenongo.  Hal tersebut dilakukan Syeh Siti Jenar oleh karena Ki Kebokenongo mempunyai niat dan tujuan yang sama dengan dirinya, berniat memberontak terhadap Demak. Selain itu ia memiliki kepercayaan dan pandangan agama yang sejalan dengan dirinya.  Setiba di desa Pengging Syeh Siti Jenar langsung menjumpai Ki Kebokenongo di rumahnya.  Setelah mengucap salam, berkatalah Syeh Siti Jenar kepada  Ki Kebokenongo:

     “Ki Ageng Kebokenongo, aku mendengar kabar Ki Ageng berselisih kekuasaan dengan Sultan Bintoro dan hendak memberontak terhadap Demak, benarkah itu?”

Mendengar pertanyaan yang tak diduga-duga dan bersifat pribadi dari Syeh Siti Jenar, orang yang belum dikenalnya secara dekat dan mendalam, Ki Kebokenongo sedikit terperanjat. Dengan senyum dikulums ia berkata kepada Syeh Siti Jenar:

     “Wahai kisanak, siapakah tuan ini, dan dari manakah?”  

Mendengar jawaban Ki Kebokenongo seperti itu Syeh Siti Jenar menjadi heran, sebab meskipun tidak sering bertemu Ki Kebokenongo, tetapi ia pernah beberapa kali berbincang-bincang bertukar pikiran soal kepercayaan, agama dan masalah keadaan situasi politik di Demak yang dirasakan semakin  tidak kondusif lagi.  Dengan perasaan sedikit kecewa yang dipendam, Syeh Siti Jenar berkata kepada Ki Kebokenongo dengan penuh rasa keakraban penuh persahabatan:

     “Walah, walah,walaaah...Ki Ageng ini piye, tho? (KI Ageng ini bagaimana?) Apa sudah lupa dengan aku, Syeh Siti Jenar seorang hamba sahaya yang mendapat derajat tinggi secara tiba-tiba, dan orang menyebut aku seorang wali. Berbeda dengan Ki Ageng yang masih keturunan raja, kaum bangsawan yang memerintah pulau Jawa ini.  Tetapi sekarang hidup susah, tinggal di desa menjadi petani, bercocok tanam dan menanam padi dan palawija karena perlakuan Sultan Bintoro, raja Demak yang tamak itu”.

     “Oya, ya, ya... Aku baru ingat sekarang, maafkan aku Syeh Siti Jenar, sungguh aku tak menduga dan tak mengenalimu sebab penampilanmu jauh berbeda.  Jenggot, kumis, rambutmu agak panjang sekarang, dan pakaianmu pun semakin hitam gelap segelap dan hitamnya kehidupan sekarang . Namamu pun  semakin terkenal di kalangan masyarakat maupun di kalangan pemerintahan bahkan di seantero Jawa ini, dan banyak pula yang menyebutmu dengan sebutan Syeh Lemah Abang.  Mari, jangan sungkan-sungkan,  Syeh!  Anggap saja ini seperti di padepokanmu. Oya, Sekarang apa lagi yang akan kau bicarakan sebab aku pun ingin tahu maksud dan tujuanmu datang kemari yang jauh dari keramaian kota hanya desa terpencil, Pengging yang sekarang sebagai tempat aku tinggal mengelola sebidang tanah dan sawah, tempat mesu diri memikirkan kehidupan yang  semakin aku tak mengerti, penuh kemunafikan, keserakahan, ketamakan, intrik-intrik, dan ambisi pribadi untuk mendapatkan kekuasaan dan jabatan seperti yang terjadi di Demak Bintoro ini sebagaimana yang tadi Syeh Siti Jenar katakan.”

     “Baiklah Ki Ageng, sebenarnya aku sudah lama ingin berkunjung ke sini untuk menemuimu membicarakan tentang keadaan negeri, bertukar pendapat, pikiran dan pandangan terkait dengan kehidupan keagamaan dan kepercayaan yang kita sebarkan kepada santri-santri kita dan masyarakat kita di Demak Bintoro ini yang semakin terasa tidak nyaman karena ajaran-ajaran kita dianggap nyeleneh dan sesat ke luar dari ajaran Islam. Dan sungguh aku sangat mendukungmu dan akan membantu sekuat jiwa raga dan pikiran jika rencana untuk memberontak terhadap Demak itu jadi kau laksanakan.” Demikian  Syeh Siti Jenar menyampaikan pikiran, pendapat, dan pandangan  serta dukungan penuhnya terhadap Ki Kebokenongo, sambil tak lupa mengelus kumis dan jenggotnya yang hitam agak keputihan itu.

     “Baiklah, Syeh Siti Jenar! Aku sangat berterima kasih sekali dengan dukunganmu. Akan tetapi sebaiknya fokus pembicaraan kita belum mengarah ke sana, ke rencana pemberontakan itu,  karena semuanya itu tentu memerluan persiapan yang matang baik secara fisik, mau pun non fisik, dan yang utamanya lagi adalah persiapan materi logistiknya karena masyarakat kita, santri-santri kita masih belum siap untuk melakukan pekerjaan besar seperti itu.  Marilah kita membahas yang berkait dengan keagamaan kita karena terus terang aku butuh ketenangan jiwa, dan  itu kutemukan saat aku mesu diri  mendalami, mengkaji, merenung diri apa arti sejatinya sebuah kehidupan.” Demikian kata-kata Ki Kebokenongo menanggapi pendapat Syeh Siti Jenar.

     “Jika demikian adanya, aku sangat sependapat denganmu, Ki Kebokenongo. Aku sangat bersyukur jika pendapat dan pemikiran kita masih bisa dipersatukan, dan mari kita bersatu tekad untuk tetap memegang teguh ajaran kita masing-masing meskipun taruhannya  tubuh kita akan hancur lebur akan tetapi ajaran-ajaran kita akan terus tetap berkembang sampai di hari kemudian menuju alam kelanggengan. Sekarang, marilah kita segera menyembelih ayam berbulu putih seluruhnya dengan nasi putih yang dicampur garam sedikit sebagai alasnya.”

Selanjutnya Ki Kebokenongo yang dikenal juga dengan julukan Ki Ageng Pengging menyuruh kepada istrinya untuk menyembelih seekor ayam  berbulu putih dan mempersiapkan nasi putih untuk acara selamatan pada malam harinya. Menjelang senja saat petang hari, masakan disajikan ditutupi dengan kain yang juga berwarna putih. Syeh Siti Jenar dan Ki Ageng Pengging duduk di serambi sanggar berbincang membahas tentang agama Hindu, Budha, dan Islam.

Sambil  menanti malam tiba, Ki Ageng Pengging mengawali diskusi dengan membahas tentang ajaran agama Hindu-Budha, sedangkan Syeh Siti Jenar mengulas agama Islam yang disampaikan dengan cara  yang menarik sekali. Kalimat-kalimat yang disampaikan jelas dan tersetruktur sehingga mudah ditangkap dan dicerna. Ki Ageng Pengging mendengarkan  secara serius dan penuh perhatian.  Menikmati kata demi kata, kalimat demi kalimat yang disampaikan Syeh Siti Jenar. Dan  Pada akhirnya mereka berdua berkesimpulan bahwa meskipun agama yang mereka anut berdua masing-masing berbeda, akan tetapi hakikatnya adalah sama bahwa agama itu mengajarkan tentang kebenaran, menuntun manusia, bagaimana manusia harus bersikap kepada Tuhan, kepada manusia, dan kepada alam.

Mereka berdua, Ki Ageng Pengging dan Syeh Siti Jenar  sangat menikmati debat dan diskusi agama itu, sehingga tak terasa malam pun  mulai merayapi desa Pengging. Cuaca dingin merasuk mengelitik tubuh, kabut tipis menggumul  depan serambi rumah Ki Ageng Pengging menambah cuaca malam itu semakin dingin. Tak lama kemudian mereka berdua  masuk ke dalam sanggar lalu masing –masing mengambil kain putih yang dipakai sebagai penutup hidangan. Syeh Siti Jenar duduk menghadap ke utara, sedangkan Ki Ageng Pengging menghadap ke selatan, mereka saling berhadap-hadapan.  Mereka berdua akan saling bertanya dan menjawab  secara makrifat, berargumentasi dengan saling debat menurut pemikiran dan kebenaran mereka masing-masing.  

Bertanyalah Syeh Siti Jenar kepada Ki Ageng Pengging:

     “Ki Ageng Pengging, sesungguhnya dimanakah Yang Maha Kuasa itu?”

Ki Ageng Pengging diam saja tak menjawab pertanyaan Syeh Siti Jenar. Sejenak kemudian ia berkata menjawab pertanyaan Syeh Siti Jenar dengan sebuah  pertanyaan pula:

     “Syeh Siti Jenar, menurutku jawaban pertanyanmu ada dalam pertanyaanku ini, ‘dimanakah pintu kematian itu?’ bisakah Syeh  menjawabnya?!

Menerima pertanyaan Ki Ageng Pengging, Syeh Siti Jenar diam tak bisa menjawabnya. Lalu mereka berdua pun saling merenung memikirkan kedua pertanyaan yang Saling mereka ajukan. Tak beberapa lama kemudian Ki Ageng Pengging berkata kepada Syeh Siti Jenar:    

     “Syeh Siti Jenar, besok aku akan menemukan kolong dunia.”

Menjawab Syeh Siti Jenar dengan cepat:
 
     “Itu salah besar Ki Ageng!”

Ki Ageng Pengging berkata:

     “Apakah saya akan masuk dan harus masuk ke alam kesunyian, seperti saat saya belum    dilahirkan?”

Jawab Syeh Siti Jenar:

     “Itu pun juga tidak benar, Ki Ageng!”

Ki Ageng Pengging melanjutkan kata-katanya:

    “Apakah saya akan sejiwa denganyang gaib, ‘Yang mandiri secara pribadi, menyatukan diri dengan keinginan, berubah menjadi air mani agar dapat melakukan penitisan, seribu hari makan irisan tipis-tipis sedangkan sedekahnya adalah mayat saya.”

Syeh Siti Jenar tetap menyangkal semua pendapat Ki Ageng Pengging yang dianggapnya salah dan tidak tepat dengan berbagai argumentasi yang kuat dan masuk akal.  Akhirnya Ki Ageng Pengging merasa bahwa tingkat ilmu kemakrifatannya masih di bawah Syeh Siti Jenar dan dia memohon kepada Syeh Siti Jenar untuk menjadi muridnya memberikan nasehat-nasehat dan wejangan-wejangan tentang  siapa, dan dimana Yang Maha Kuasa itu? Syeh Siti Jenar kemudian menjelaskan tentang, ‘Uning, Unong, Unang.’

Ki Ageng Pengging menyimak semua dengan sungguh-sungguh dan penuh perhatian apa yang diuraikan Syeh Siti Jenar akan tetapi ia masih belum menerima sepenuhnya ajaran Syeh Siti Jenar. Saat ia masih merenung memikirkan ajaran Syeh Siti Jenar, ia terkejut karena Syeh Siti Jenarbertanya kepadanya tentang dimana pintu kematian itu. Menjawab pertanyaan Syeh Siti Jenar, Ki Ageng Pengging menunjukkan telunjuknya ke arah bagian leher. Syeh Siti Jenar dapat memahami dan mengerti maksudnya. Selanjutnya, Syeh Siti Jenar menyantap daging ayam yang disajikan, memegang isi perut ayam seraya  berkata:

     “Apakah in sarang angin?”

Ki Ageng Pengging mengibas-ngibaskan kedua tangannya, memadamkan lampu dalam sanggar.  Mereka berdua tertawa bersama-sama karena menyadari bahwa sesungguhnya mereka masih diliputi oleh kegelapan tentang uning, unong yang menggambarkan kematian itu.
Tiga hari tiga malam sudah Syeh Siti Jenar berada di sanggar Ki Ageng Pengging membahas agama Hindu, Budha, dan Islam Ki Kebo Kenongo alias Ki Ageng Pengging itu. Pada akhirnya mereka menemukan kesepakatan, bahwa di antara kepercayaan mereka berdua tidak ada bedanya. Syeh Siti Jenar pun mohon diri utuk kembali  ke desanya, Krendhasawa. (SP091257)

Referensi:
YB. Prabaswara, Siti Jenar Cikal Bakal Faham Kejawen, Jakarta, Armedia  

Penulis:
Slamet Priyadi di bumi Pangarakan – Bogor
Rabu, 25 Desember 2013 – 15:10 WIB
 

KADIBYAN ᾹKᾹҀA (KAMULYAN LANGIT): Kisah Syeh Siti Jenar Debat Agama dengan Ki Kebo K...: Denmas Priyadi Kadibyan Akaca Blog - Rabu, 25 Des. 2013 - Kisah ini berawal ketika Ki Kebokenongo yang dikenal juga dengan sebutan...

Rabu, 05 Desember 2012

EKSISTENSI SABDA PALON Oleh Eko Wahyu Budi



JIKA kita telusur lebih jauh, cerita nubuatan semacam sumpah Sabda Palon tidak lebih dari sekedar karya sastra saja. Karya ini menggunakan cerita rakyat yang telah banyak beredar di masyarakat.

Dalam tradisi oral yang berkembang di sekitar Trowulan, wilayah yang diyakini sebagai salah satu situs Majapahit, konon hidup Sabda Palon dan Naya Genggong. Keduanya merupakan tokoh abdi dalem Keraton.

Meski kebenaran dua tokoh ini sukar diverifikasi, nama Sabda Palon dan Naya Genggong banyak disebutkan dalam cerita-cerita babad.

"Ketenaran" memberi peran baru kepada kedua tokoh ini. Hingga pada gilirannya, Sabda Palon dan Naya Genggong diangkat dari derajadnya yang tidak lebih dari abdi dalem biasa menjadi “danyang” Tanah Jawa.

Dengan demikian tradisi oral tentang cerita Sabda Palon dan Noyo Genggong telah memiliki nilai baru dan menjadi mitologi. Proses demikian adalah hal biasa terjadi mengingat adanya sejumlah kepentingan yang bermain.

Kenyataannya dalam tradisi lesan yang berkembang di Trowulan, tokoh Sabda Palon dan Noyo Genggong bukan merupakan sosok yang anti Islam. Keduanya, sebagaimana hidup dalam tradisi oral masyarakat, adalah dua orang abdi Majapahit yang telah memeluk agama Islam. Hal ini sudah tentu berbeda dengan sejumlah kisah babad yang menempatkan keduanya sebagai sosok mitologis.
 
Berdasarkan keterangan resmi Pusat Informasi Majapahit (Museum Trowulan), kedua tokoh tersebut merupakan dua di antara 7 (tujuh) sosok yang dimakamkan di situs makam Troloyo yang terletak di Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan. Perlu diketahui bahwa ketujuh makam di situs Troloyo tersebut merupakan makam abdi dalem Majapahit yang telah memeluk agama Islam.

Namun tidak diragukan lagi bahwa cerita-cerita babad yang saat ini beredar, umumnya banyak yang menggali ide ceritanya dari tradisi lesan yang berkembang di suatu masyarakat tertentu. Tradisi lesan yang ada kemudian diberi muatan (nilai) baru dan dimodifikasi sesuai pesan yang hendak disampaikan; sehingga muncullah mitos-mitos tersebut. (Eko Wahyu Budi / CN33)


Senin, 27 Agustus 2012

MASIH RELEVANKAH AJARAN SYEKH SITI JENAR DEWASA INI? Oleh: Ir. Achmad Chodjim, MM


SEMBILAN POKOK AJARAN SYEKH SITI JENAR

MINGGU, 26 AGUSTUS 2012 - DENMAS PRIYADI BLOG: Tema seminar/sarasehan budaya hari ini adalah agama ageming aji, yaitu agama sebagai nilai-nilai luhur yang menjadi landasan hidup bangsa Indonesia, sesuai dengan sila pertama pada Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa. Agama dalam bingkai ageming aji bukanlah agama dalam arti golongan atau agama sebagai organisasi (organized religion), tetapi agama sebagai basis moralitas dan perilaku manusia.

Agama dalam arti ini pernah menjadi polemik dan perang wacana di Kepulauan Nusantara –karena Indonesia belum lahir– dan tepatnya di P. Jawa pada pertengahan abad ke-15 hingga pertengahan abad ke-16.

Tokoh sentral dalam polemik dan perang wacana pada masa itu adalah Syekh Siti Jenar atau dikenal dengan nama Syekh Lemah Abang. Dia seorang guru dan pelaku spiritual yang mengajarkan agama sebagai jalan hidup dan bukan sebagai kepercayaan. Meskipun Syekh seorang muslim, tetapi ajarannya menarik berbagai pemeluk agama dan kepercayaan yang ada waktu itu. Mereka yang belajar dan menjadi murid Syekh berasal dari berbagai kalangan, baik kalangan elite –yaitu para adipati– maupun rakyat biasa. Mereka berasal dari pemeluk Hindu, Biddha, Syiwa-Buddha, Islam, dan pemeluk kepercayaan yang berkembang di Jawa waktu itu.
Apa yang diajarkan oleh Syekh Siti Jenar sehingga daya tarik ajarannya luar biasa dan menyebabkan penguasa Kesultanan Demak Bintara kegerahan waktu itu? Yang diajarkan sebenarnya bukanlah hal yang asing bagi mereka yang hidup di Kep. Nusantara waktu itu. Yang diajarkan adalah paham MKG (Manunggaling Kawula Gusti), yaitu satunya hamba dengan Tuhan. Paham ini sudah ada di agama Hindu dan Buddha yang sebelum berdirinya Kesultanan Demak, dipeluk oleh mayoritas penduduk Nusantara. Paham ini diikuti oleh kalangan sufi dalam agama Islam. Bahkan, mereka yang dikenal sebagai anggota Walisanga juga berpaham MKG. Padahal, berdasarkan sejarah Walisanga yang bergelar sunan itu adalah pendukung dan penasehat Sultan Demak di zaman itu.

Meskipun Walisanga dan Syekh Siti Jenar sepaham, tetapi pada tataran implementasinya dalam kehidupan berbeda. Bagi Siti Jenar, MKG merupakan landasan, jalan dan alat untuk menjadikan manusia merdeka sejati. MKG menggerakkan manusia untuk menjadi dirinya sendiri, menjadikan manusia yang memiliki kepribadian. Inilah inti dari MKG yang diajarkan oleh Syekh Siti Jenar. Tentu pikiran semacam ini melompat terlalu jauh ke depan pada zamannya. Jangankan pada masa 500 tahun yang lalu, dewasa ini saja sebagian besar orang tidak hidup sebagai pribadi, tetapi hidup berdasarkan pikiran orang lain.i Sedangkan MKG yang diajarkan oleh Walisanga lebih bersifat teoritis, dan tidak memberikan implikasi nyata dalam kehidupan masyarakat.

Ajaran MKG Siti Jenar mendobrak feodalisme yang tumbuh subur pada masa itu, sedangkan Walisanga justru melanggengkan sistem feodalisme. Syekh membangkitkan kesetaraan antara kawula (rakyat) dengan rajanya (Gusti). Walisanga melestarkan sistem rakyat menyembah raja. Syekh membebaskan orang dari belenggu ketakhayulan dan pikiran picik, sedangkan Walisanga malah menjadikan agama dan kepercayaan sebagai alat kekuasaan.

Puncak pertarungan paham berakhir ketika Sultan Patah memerintahkan Walisanga untuk menghentikan kegiatan mengajar Syekh dan pengikutnya dihancurkan. Untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak, kata peribahasa. Ajaran Syekh Siti Jenar dipadamkan –meski demikian, ajaran SSJ tetap berjalan dan disampaikan secara sembunyi-sembunyi. Rakyat patuh kepada raja secara pasif, sedangkan kalangan elite berebut kekuasaan. Akibatnya, umur kerajaan tak ada yang panjang, Demak jatuh disusul dengan berdirinya Pajang, dan dalam satu generasi saja Pajang hilang dan muncul Mataram.

Karena rakyat bodoh dan elite kerajaan berebut kekuasaan, maka Mataram hanya dalam kurun waktu 50 tahun berdiri sudah goyah karena adanya infiltrasi VOC, yang akhirnya Mataram menjadi negara taklukan VOC. Hal ini saya sampaikan dalam seminar/sarasehan ini agar dapat menjadi pelajaran bagi bangsa Indonesia. Dengan memperhatikan kembali ajaran Syekh Siti Jenar kita akan dididik untuk menjadi manusia merdeka, sehingga siap untuk menahan gangguan dan ancaman asing agar bangsa Indonesia tidak terus-menerus terjajah oleh negara lain dalam segala bentuknya.

Sembilan Ajaran Pokok Syekh Siti Jenar

Sebagaimana dituturkan di atas, manusia hidup di atas bangunan opini atau pendapat orang lain. Pada umumnya manusia tidak mengetahui hakikat hidupnya sendiri, dan tidak mengetahui dengan pasti apa yang akan terjadi pada dirinya. Pikiran sebagian besar orang merupakan pendapat orang lain, sehingga kita berbicara menggunakan bahasa orang lain. Mereka yang berpengaruhlah yang telah menanamkan pengaruhnya yang berupa bahasa, perilaku, pendapat, dan sebagainya untuk membangun identitas tunggal.

Adalah Kierkegaard –seorang filosof Barat– yang menyatakan bahwa sekelompok besar orang selalu menghilangkan identitas pribadi. Oleh karena itu, sebagian besar orang yang beragama (memeluk agama resmi) biasa melakukan ritual dan menjalankan apa yang biasa dilakukan atau diharapkan oleh orang lain, tanpa penghayatan pribadi apa yang dilakukankannya. Kebanyakan orang hidup dalam kedangkalan dan formalisme kosong, dan demikianlah yang terjadi sehingga seluruh generasi terjebak dipinggiran akal budi yang berlumpur. Inilah yang menyebabkan roda kemajuan berhenti berputar.[i]

Pendapat sebagai hasil olah pikir manusia berkembang terus, dan bila pemikiran seseorang, suatu golongan atau bangsa mandek, maka ia akan terlindas oleh perubahan yang terjadi di dunia ini. Bangsa yang pemikirannya terlindas atau tertinggal akan menemui banyak masalah dalam hidupnya, dan kenyataan itu bisa kita saksikan dewasa ini. Perhatikanlah apa yang terjadi pada negara-negara tidak maju atau sedang berkembang! Kemiskinan, kebodohan, mutu kesehatan yang rendah, serta rusaknya lingkungan hidup merupakan bukti mandeknya pemikiran.

Tanpa berpikir manusia tidaklah sama dengan hewan, tetapi malah lebih buruk daripada kehidupan hewan. Bila hewan lapar, maka secara naluri akan tertuntun menuju sumber makanan, tetapi tanpa berpikir untuk mencari makan manusia akan mengalami kematian. Oleh karena itu, manusia berandai-andai, dan perlu berasumsi. Manusia berusaha menggunakan akal-pikirannya untuk menciptakan nilai tambah pada segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Berbagai benda diberi nilai atau “aji” sesuai dengan tingkat kelangkaannya.

Pendapat apabila sudah diterima oleh suatu kelompok orang maka akan menjadi kebenaran bagi kelompok itu. Meskipun kitab-kitab suci dalam berbagai agama dikategorikan sebagai wahyu dan bukan pendapat, tetapi dalam implementasinya tetap menggunakan olah pikir alias pendapat. Dan, pendapat tentunya dimaksudkan untuk menyamankan, memudahkan, dan menimbulkan kesejahteraan umat. Itulah pendapat yang diperlukan!

Jadi, bukan kebenaran hakiki atau kebenaran harfiah suatu pendapat yang perlu diperhatikan. Yang perlu diperhatikan adalah apakah pendapat itu bisa digunakan untuk menimbulkan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi umat manusia, minimal bagi mereka yang meyakini pendapat itu. Dan, yang perlu kita tolak adalah pendapat yang menimbulkan kezaliman, kesengsaraan dan kriminalitas bagi manusia.

Nah, ajaran pokok yang pertama dari Syekh Siti Jenar adalah tidak mengabsolutkan pendapat. Pendapat boleh diperdebatkan, akan tetapi pendapat tidak untuk melindas pendapat orang lain. Munculnya berbagai mazhab dalam berbagai agama di dunia membuktikan bahwa ajaran agama pasca pendirinya sebenarnya merupakan pendapat yang dikembangkan dari ajaran asal agama itu. Jadi, kebenaran pendapat adalah kebenaran yang dibangun atas akseptabilitas masyarakat atau komunitas tempat pendapat itu berkembang.

Ajaran pokok yang kedua adalah menjadi manusia hakiki, yaitu manusia yang merupakan perwujudan dari hak, kemandirian, dan kodrat.

Hak. Kebanyakan kita berpendapat bahwa kita harus mendahulukan kewajiban daripada hak. Perhatikanlah para pejabat kita selalu menuntut rakyat untuk menjalankan kewajibannya dulu sebelum mendapatkan haknya. Warga dituntut membayar pajak, mematuhi undang-undang dan peraturan yang ditentukan oleh para elite politik, dan melaksanakan berbagai macam kepatuhan. Menurut Syekh Siti Jenar, harus ada hak hidup lebih dulu. Inilah kebenaran! Tak ada kewajiban apa pun yang bisa diberikan kepada seorang bayi yang baru dilahirkan. Oleh karena itu, begitu seorang bayi manusia dilahirkan semua hak-haknya sebagai manusia harus dipenuhi terlebih dahulu.

Tidak peduli ia dilahirkan di keluarga kaya atau miskin, hak memperoleh pengasuhan, perawatan, penjagaan, perlindungan, dan mendapatkan pendidikan harus dipenuhi. Hak-hak tersebut dipenuhi agar ia menjadi manusia yang dapat menjalankan kewajibannya sebagai anggota keluarga, masyarakat, dan negara. Dengan cara itu akhirnya ia menjadi manusia hakiki, manusia sebenarnya yang dapat berkiprah dalam kehidupan nyata, baik sebagai pribadi maupun warga sebuah negara. Salah satu unsur untuk menjadi manusia yang hidup merdeka terpenuhi.

Kemandirian. Pemenuhan hak dan kewajiban barulah tahap awal untuk menjadi manusia hakiki. Tahap berikutnya adalah mendidik, mengajar, dan melatihnya agar bisa menjadi manusia yang hidup mandiri. Ia harus diarahkan agar mampu hidup yang tidak tergantung pada orang lain. Dengan demikian, kehidupan mandiri akan tercapai bila terjadi kesalingtergantunga n antar anggota masyarakat dan sekaligus kemerdekaan (interdependence and independence) .

Perhatikanlah keadaan ekonomi masyarakat Indonesia sekarang ini. Kita amat sangat tergantung pada bantuan atau hutang luar negeri. Negara yang dilimpahi kekayaan alam yang luar biasa ini justru dihisap oleh negara-negara maju di dunia ini. Setiap bayi yang dilahirkan yang seharusnya merupakan aset negara, ternyata tumbuh menjadi manusia-manusia pencari kerja dan bahkan menjadi beban negara. Hal ini disebabkan terjadinya manusia-manusia yang tergantung pada orang lain. Hubungan yang terjadi adalah hubungan orang-orang lemah dengan orang-orang kuat. Yang lemah merasa sangat memerlukan yang kuat, sedangkan yang kuat berbuat tidak semena-mena terhadap mereka yang lemah.

Akibat dari keadaan tersebut tambah tahun pengangguran akan semakin bertambah besar. Yang menjadi gantungan relatif tetap, sedangkan yang menggatungkan diri bertambah banyak. Terjadi relasi yang tidak seimbang, sehingga kehidupan masyarakat menjadi rawan.

Kodrat. Inilah unsur berikutnya yang menopang asas hak dan kemandirian dalam kehidupan masyarakat. Kodrat pada manusia merupakan kuasa pribadi. Kodrat tidak didapat dari luar diri. Dengan demikian kodrat tidak berasal dari pelatihan dan pendididikan. Tetapi kodrat harus diberikan ruang yang kondusif agar suatu bentuk kemampuan khusus yang dianugerahkan pada setiap orang bisa terwujud. Dalam hal ini, pelatihan akan meningkatkan kualitas kodrat yang dimiliki seseorang.

Dalam psikologi kodrat dapat dikatakan hampir sama dengan talenta. Bila seseorang tidak diberikan kesempatan untuk dapat mengaktualisasikan dirinya, maka kodratnya kemungkinan besar tak akan terwujud. Padahal, kodrat yang ada pada diri seseorang itulah yang bisa menjadi sarana untuk memperoleh keuntungan bagi dirinya. Bila setiap orang bisa mewujudkan kodratnya, maka akan terwujud hubungan yang saling memberikan dan sekaligus saling membutuhkan. Setiap orang akan memiliki nilai tawar bagi orang lain.

Harmonisasi dan ikatan antar warga negara akan menguat bila sebagian besar penduduknya bisa mewujudkan ketiga unsur manusia hakiki tersebut. Keragaman masyarakat pun kecil dan kesenjangan ekonomi dapat dinihilkan. Akhirnya jati diri manusia akan muncul dengan sendirinya, dan kita akan menjadi bangsa yang kokoh dan tidak mudah diprovokasi.

Ajaran pokok Syekh yang ketiga adalah hubungan antara satu orang dengan orang lain merupakan hubungan kodrat dan iradat. Hubungan satu orang dengan orang lain bagaikan hubungan kerja dalam satu tim, sehinga tidak terjadi hubungan posisi yang memerintah dan yang diperintah. Tak ada hubungan kekuasaan. Antara manusia yang satu dengan yang lain terikat oleh kodrat dan iradatnya, sehingga seperti hubungan sel yang yang satu dengan sel lainnya dalam satu tubuh, dan hubungan organ yang satu dengan organ lainnya dalam satu tubuh.

Kalau kita amati cara kerja organ-organ dalam tubuh manusia, maka kita akan ketahui bahwa masing-masing organ –seperti otak, penglihatan, penciuman, pendengaran, paru-paru, jantung, hati, ginjal, usus, dan lain-lain– akan bekerja sama, dan masing-masing menjalankan peranannya. Seharusnya kehidupan masyarakat manusia juga demikian. Dengan mewujudkan masyarakat yang berupa kumpulan manusia-manusia hakiki, masing-masing orang atau kelompok menjalankan fungsinya dengan benar, maka akan terbentuk kehidupan yang sehat dan tidak terjadi penghisapan antara orang yang satu terhadap orang lainnya. Inilah kehidupan dunia yang didambakan oleh Syekh Siti Jenar, yang justru sekarang tumbuh dan berkembang di negara maju.

Ajaran pokok yang keempat : segala sesuatu di alam semesta ini adalah satu dan hidup. Dalam salah satu pupuhnya disebutkan bahwa bumi, angkasa, samudra, gunung dan seisinya, semua yang tumbuh di dunia, angin yang tersebar di mana-mana, matahari dan rembulan, semuanya merupakan keadaan hidup. Jadi, semua yang ada merupakan wujud kehidupan.

Menurut Syekh Siti Jenar yang dinamakan makhluk hidup adalah kehidupan yang terperangkap dalam alam kematian. Zat mati tak akan dapat menimbulkan kehidupan, sedangkan zat hidup tak akan tersentuh kematian. Tuhan disebut zat yang mahahidup karena Dia eksis karena Diri-Nya sendiri. Kekuatan hidup-Nya mengalir dalam alam kematian sehingga muncul sebagai makhluk hidup. Sekarang bandingkan dengan tulisan-tulisan dari Barat dewasa ini, akan kita temukan pernyataan mereka bahwa semuanya satu, semuanya hidup. Dengan demikian, pandangan Syekh Siti Jenar luar biasa. Banyak pandangannya yang justru bersesuaian dengan pandangan kaum teosofi maupun para spiritualis dari Barat.

Bila kita menyadari bahwa lingkungan kita adalah keadaan yang hidup, maka tentu kita akan memperlakukan lingkungan kita dengan sebaik-baiknya karena kita dan lingkungan kita sebenarnya satu dan sama-sama sebagai keadaan yang hidup. Bila kita menyadari tentu kita akan berhati-hati dalam memperlakukan lingkungan kita.

Ajaran pokok yang kelima: pemahaman tentang ilmu sejati. Dikisahkan dalam Serat Siti Jenar yang ditulis oleh Aryawijaya: Sejati jatining ngèlmu, lungguhé cipta pribadi, pustining pangèstinira, gineleng dadya sawiji, wijanging ngèlmu dyatmika, nèng kahanan eneng ening. Hakikat ilmu sejati itu terletak pada cipta pribadi, maksud dan tujuannya disatukan adanya, lahirnya ilmu unggul dalam keadaan sunyi dan jernih.

Menurut Syekh Siti Jenar manusia haruslah kreatif karena manusia telah diberi anugerah oleh Yang Mahakuasa untuk dapat mengaktualisasikan ilmunya yang berasal dari dalam dirinya sendiri. Jadi, ilmu sejati bukanlah ilmu yang kita terima dari orang lain. Yang kita dapatkan melalui indra, pengajaran dari orang lain, itu hanyalah refleksi ilmu. Dan, ternyata sejak abad ke-20 pemahaman bahwa ilmu lahir dari kedalaman batin telah menjadi pemahaman yang universal. Itulah sebabnya orang-orang Barat tekun dalam melakukan perenungan dan pengkajian terhadap tanda-tanda di alam semesta.

Jadi, harus ada suasana kondusif bagi orang-orang yang mendalami ilmu pengetahuan. Suasana kondusif bagi ilmuwan adalah iklim kerja yang membuat ilmuwan tersebut dapat bekerja dengan tenang, nyaman, dan bebas dari berbagai penyebab kekalutan dan kesulitan. Dan, tentunya hak-hak untuk dapat menjadi ilmuwan sejati haruslah dipenuhi. Ingat, setiap orang telah diberi potensi dan talenta yang disebut kodrat. Dan, bagi mereka yang memiliki kodrat untuk menjadi ilmuwan harus disediakan iklim kerja yang kondusif sehingga bisa menghasilkan hal-hal yang dibutuhkan manusia.

Ajaran pokok yang keenam: umumnya orang hidup saling membohongi. Banyak hal yang sebenarnya kita sendiri tidak tahu, tapi kita menyampaikannya juga kepada teman-teman kita. Hal ini banyak sekali terjadi dalam ajaran agama. Banyak orang yang sekadar hafal dalil, tetapi sebenarnya dia tidak mengetahui apa yang dimaksud oleh dalil itu. Akhirnya pemahaman yang keliru itu menyebar dan terbentuklah opini yang salah.

Masyarakat yang dipenuhi dengan pemahaman dan opini yang salah sama dengan masyarakat yang dipenuhi sampah. Masyarakat demikian pasti rawan terhadap serangan penyakit. Oleh karena itu, masyarakat harus dibebaskan dari berbagai macam kebohongan. Masyarakat harus diajar dan dididik untuk memahami segala sesuatu seperti apa adanya.

Agar tidak hidup saling membohongi manusia harus kembali mengenal dirinya. Setiap orang harus dididik untuk menyadari perannya dalam hidup ini. Para cerdik cendekia harus mengerti fungsinya di dunia. Orang harus diajar untuk bisa mengerti dunia ini sebagaimana adanya. Agama harus diajarkan sebagai jalan hidup dan bukan alat untuk meraih kekuasaan. Oleh karena itu, keimanan harus diajarkan dengan benar dan bukan sekadar diajarkan sebagai kepercayaan. Iman harus diajarkan sebagai penghayatan, pengalaman, dan pengamalan kebenaran.

Ayat-ayat kitab suci harus dipahami berdasarkan kenyataan, dan tidak diindoktrinasikan serta diajarkan secara harfiah sesuai dengan asal kitab suci tersebut. Agama harus diajarkan secara arif dan bisa dibumikan, tidak terus menggantung di langit. Agama harus diterjemahkan dalam bentuk yang dapat dipahami dan dipraktikkan oleh masyarakat penerimanya.

Ajaran pokok yang ketujuh: nama Tuhan diberikan oleh manusia. Lima ratus tahun yang lalu Syekh telah menyatakan dengan tegas bahwa manusialah yang memberikan nama pada Tuhan. Oleh karena itu, nama bagi Tuhan bermacam-macam sesuai dengan bahasa dan bangsa yang menamai-Nya. Dan, perlu diketahui bahwa Tuhan sendiri sebenarnya tidak perlu nama, karena Dia hanya satu adanya. Sesuatu diberi nama karena untuk membedakan dengan sesuatu lainnya. Nama diberikan agar kita tidak keliru tunjuk atau salah sebut.

Bagi Syekh Siti Jenar, apapun sebutan yang diberikan kepada-Nya haruslah sebutan yang terpuji, yang baik, yang pantas. Bahkan dalam Alquran dinyatakan dengan tegas pada Q. 7:180 bahwa manusia diperintah untuk memohon kepada-Nya dengan nama-nama baik-Nya, atau al-asmâ-u l-husnâ. Dan, pada Q.17:110 dinyatakan bahwa Dia dapat diseru dengan nama Allah, Ar Rahman, atau dengan nama-nama baik-Nya yang lain.

Sungguh, sangat mengherankan bila di zaman sekarang ini kita berebut nama Tuhan. Secara teoritis umat Islam dididik untuk meyakini bahwa Tuhan itu Yang Maha Esa. Tetapi, dalam kenyataannya sebagian orang Islam –seperti yang terjadi di Malaysia – malah meminta orang yang beragama lain untuk tidak menggunakan lafal Allah bagi sebutan Tuhan pada agama lain tersebut. Inilah pemahaman yang salah! Kalau kita –yang Muslim— menolak pemeluk agama lain menyebut Allah bagi Tuhannya, maka secara tak sadar kita mengakui bahwa Tuhan itu lebih dari satu.

Sudah waktunya kita ajarkan ketuhanan dengan benar sehingga kita tidak berebut tulang tanpa isi. Kita harus menyadari sepenuhnya bahwa mengamalkan nilai-nilai ketuhanan dengan benar itulah yang amat penting dalam hidup ini. Bagi orang Indonesia , menghayati dan mengamalkan nilai-nilai ketuhanan dengan benar merupakan penegakan Sila yang pertama.

Ajaran pokok yang kedelapan: raja agama sesungguhnya raja penipu. Sebagaimana telah diterangkan bahwa agama adalah jalan hidup. Oleh karena itu, agama harus diajarkan untuk menjadi jalan hidup, sehingga pemeluk agama bisa hidup tenang, bahagia dan bersemangat dalam menjalani hidup. Agama harus diajarkan untuk menjadi landasan moral dan perilaku, sehingga agama benar-benar sebagai nilai luhur dan menjadi rahmat bagi semesta alam.

Syekh tidak ingin membohongi masyarakat Jawa, oleh karena itu agama islam diajarkan dengan cara yang pas bagi bumi dan manusia Jawa. Untuk hal itu diperlukan penafsiran, dan tidak disebarkan dalam bentuk budaya asalnya. Agama tidak disebarkan dengan kekuasaan raja, sebab menurut Syekh raja yang memanfaatkan agama adalah raja penipu. Sering terjadi bahwa untuk memenuhi kepentingan penguasa, agama dijadikan alat menguasai rakyat. Agama yang seharusnya dikuasai oleh rakyat, yang terjadi justru sebaliknya yaitu rakyat yang dikuasai oleh agama.

Jika di Eropa pada abad ke-19 orang-orang mulai mempertanyakan peranan agama, dan bahkan ada yang memandang bahwa agama sebagai candu bagi masyarakat dan harus disingkirkan dari gelanggang kehidupan bernegara, maka empat ratus tahun sebelumnya Syekh Siti Jenar justru ingin menerapkan agama sebagai penyegar dan pencerah bagi pemeluknya. Oleh karena itu, agama diajarkan tanpa melibatkan kekuasaan negara. Di sinilah Syekh bertabrakan dengan kepentingan Walisanga.

Syekh amat sadar bahwa di dunia ini penuh dengan tipu daya. Hampir di semua negara pada waktu itu terjadi relasi keuasaan antara raja/penguasa dengan para tokoh agama. Dengan kata lain, raja dan tokoh agama berbagi kekuasaan. Yang dikuasai dan yang dijadikan pijakan hidup oleh raja dan tokoh agama adalah rakyat. Inilah yang oleh Syekh disebut sebagai penipuan. Oleh karena itu, sudah waktunya agar agama benar-benar menjadi milik masyarakat, dan negara tidak mengurusi agama. Yang diurusi oleh negara adalah tegaknya hukum positif, perlindungan bagi setiap orang tanpa memandang agama dan kepercayaannya. Yang diurusi oleh negara adalah kemakmuran, kesejahteraan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat.

Ajaran pokok yang kesembilan: segala sesuatu di alam semesta adalah Wajah-Nya. Inilah ajaran puncak dari Syekh Siti Jenar. Dunia adalah manifestasi wujud yang satu, dan hakikat keberadaan bukanlah dualitas. Sehingga, kemana pun kita hadapkan diri kita, maka sesungguhnya kita senantiasa menghadap Wajah-Nya. Semua adalah penampakan Wajah-Nya. Sekarang marilah kita cicipi dua bait puisi dari Syekh Siti Jenar.

Bersanggama dalam keberadaan
diliputi yang ilahi
hilanglah kehambaannya
lebur lenyap sirna lelap
digantikan keberadaan Ilahi
kehidupannya
adalah hidup Ilahi
Lahir batin keberadaan sukma
yang disembah Gusti
Gusti yang menyembah
sendiri menyembah-disembah
memuji-dipuji sendiri
timbal balik

dalam hidup ini

Jadi, pada puncak perenungan dan keheningan diri terjadilah penegasian eksistensi diri yang terkurung raga. Ditegaskan bahwa kehambaan telah lenyap, sudah hilang. Bila kehambaan masih tetap eksis maka di alam semesta ini masih berada dalam keadaan dualitas. Keadaan inilah yang menyebabkan orang terpisah dengan Tuhannya, meskipun secara konseptual diketahui bahwa Sang Pencipta lebih dekat daripada urat lehernya. Akan tetapi, selama keadaan dualitas belum sirna maka secara faktual Tuhan masih jauh daripada urat lehernya, karena Tuhan dianggap berada di luar dirinya.

Ada dualitas artinya kita mengakui ada dua keberadaan, yaitu ada yang inferior (keberadaan yang kualitasnya lebih rendah) dan ada yang superior (keberadaan yang kualitasnya lebih tinggi). Jika demikian, kedua jenis keberadaan itu tumbuh melalui proses. Semua yang tumbuh melaui suatu proses, bukanlah keberadaan yang kekal. Dan, bilamana tiada keberadaan yang kekal, maka tak mungkin ada fenomena atau penampakan di alam semesta.

Kita hidup di dunia ini karena kita kanggonan (didiami) urip (hidup) yang diberikan oleh Tuhan. Namun, badan jasmani ini hanyalah fenomena yang terikat oleh ruang, waktu, situasi psikologis. Hakikatnya badan jasmani ini tidak ada karena badan jasmani ini seperti gambar yang menumpang di layar perak atau layar kaca. Kalau layar digulung atau dimatikan ya lenyaplah fenomena tersebut. Jadi, memang benar bahwa dunia ini panggung sandiwara, dan kita adalah pemain-pemain sandiwara. Oleh karena itu, kita harus dapat memainkan peran kita masing dengan baik.

Lalu, apa sasaran utama pelenyapan dualitas? Sasaran pokoknya adalah menumbuhkan kesadaran akan ke-Satu-an, Oneness, dalam kehidupan ini, baik kehidupan kita sebagai individu maupun secara kolektif. Dengan lenyapnya perasaan dualitas dalam hidup ini, maka jarak antara kawula dan Gusti akan hilang. Akan lahir individu-individu yang menjadi dirinya sendiri, dan dalam kehidupan sosial akan tercipta interaksi antar warganya secara tim, sehingga semua akan memenuhi fungsinya masing-masing dalam kehidupan. Sekat antara pemimpin dan yang dipimpin akan hilang, dinding penyekat antara raja dan rakyatnya akan runtuh. Bila ini sudah terjadi, maka tak akan ada lagi eksploitasi terhadap sesama manusia.

Pelenyapan sekat antara kawula (hamba, rakyat, atau bawahan) dan Gusti (raja, pemimpin, atau atasan) akan melahirkan satu keberadaan yang disebut Manunggaling Kawula Gusti. Keberadaan MKG ini akan menggugurkan kehidupan yang berkasta dan merontokkan feodalisme. Relasi sesama manusia berupa simbiose mutualisme, yaitu hubungan yang saling menguntungkan. Sesama manusia hidup dalam suasana liberte, egalite dan fraternite, yaitu hidup dalam kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan antara sesama manusia di dunia ini. Dari sinilah Syekh membangun hubungan warga dengan wadah yang disebut masyarakat, yang tidak dijumpai di Timur Tengah pada waktu itu.

Memang masyarakat merupakan kosa kata yang dibentuk dari unsur-unsur kata Arab, yaitu dari syarika yang artinya menjadi sekutu; dan masyarakat adalah kumpulan orang-orang yang bersekutu. Jadi, setiap anggota masyarakat itu seperti sel-sel tubuh yang independen, namun selalu berinteraksi sesuai dengan peran dan fungsinya masing-masing. Setiap anggota masyarakat mengetahui tugasnya. Terciptalah jalinan kasih. Inilah surga yang sesungguhnya yang harus diwujudkan di dunia ini. Dengan demikian, konsep MKG sebenarnya untuk menciptakan kehidupan bersama dalam mencapai kejayaan! (Achmad Chodjim, materi ini juga di sampaikan di Hotel Indonesia Kempinski-Grand Indonesia, 19 Mei 2009)
*) Ir. Achmad Chodjim MM, adalah penulis buku “Syekh Siti jenar: Makna Kematian (jilid 1)”, “Syekh Siti Jenar: Makrifat dan Makna Kehidupan (jilid 2)” dan “Mistik dan Makrifat Sunan Kalijaga”.

Sumber : http://budayaleluhur.blogspot.com - Warisan Adiluhung