WARTA GOOGLE :

Loading...

Senin, 22 Oktober 2012

ASAL NAMA MAS KAREBET (JOKO TINGKIR) Diceritakan oleh Sita

JUMAT, 19 OKT. 2012 - SITA BLOK : Sultan Pajang yang bernama Hadi Wijaya. Di masa muda dikenal dengan nama Joko Tingkir karena berasal dari desa Tingkir yang pada waktu itu termasuk wilayah kekuasaan kerajaan Demak Bintoro dengan rajanya bernama Sultan Trenggono. Joko tingkir dikenal pemuda yang gagah perkasa nan perwira. Ia memiliki ilmu kadigjayaan, ilmu perang dan berbagai macam ilmu kesaktian yang sangat mumpuni. Oleh karena itu, ketika ia mendaftar untuk menjadi prajurit Demak lulus dengan begitu mudah.  Karirnya di bidang keprajuritan terus meningkat hingga akhirnya ia menjadi salah seorang pembesar kerajaan Demak Bintoro bahkan diangkat menjadi menantu Sultan Trenggono. 

Setelah kerajaan Demak Bintoro runtuh, maka berdirilah kerajaan Pajang yang diperintah oleh seorang pemuda gagah perkasa dari desa Tingkir bernama Sultan Hadi Wijaya. Sultan Hadi Wijaya raja Pajang, dimasa kecilnya bernama Mas Karebet. Ada cerita menarik di balik nama Mas Karebet ini. Beginilah ceritanya. 

Diceritakanlah seorang tokoh yang sangat disegani dan sangat dihormati di desa Tingkir bernama Ki Ageng Tingkir. Beliau merupakan salah seorang tokoh yang dianggap mumpuni dalam segala hal baik ilmu kadigjayaan maupun ilmu kebatinan. Ia merupakan salah seorang murid dari Syeh Siti Jenar atau Syeh Lemah Abang yang konon menurut cerita adalah seorang wali murtad yang ajaran-ajarannya menyimpang jauh dari ajaran Islam. 

Menurut cerita, tingkat ilmu kebatinan Ki Ageng Tingkir sudah mencapai tingkat tinggi sehingga ia bisa melihat suatu peristiwa yang bakal terjadi kemudian. Selain itu di desanya ia juga dikenal sebagai seorang dalang wayang beber yang sangat baik dan cakap. Setiap cerita wayang yang dipertunjukkan dan dimainkan oleh Ki Ageng Tingkir selalu mempesona penonton dan mengundang masyarakat untuk menikmati pertunjukan wayang beber yang dimainkannya. Suatu ketika Ki Ageng Tingkir bermaksud hendak bertandang ke desa Pengging untuk menjumpai adik seperguruannya Ki Kebo Kenongo ketika belajar ilmu bersama pada Syeh Siti Jenar. Menurut penglihatan spiritual Ki Ageng Tingkir, istri Ki Kebo Kenongo, Nyi Pengging sudah hamil tua itu akan melahirkan seorang putra yang kelak di kemudian hari akan menjadi orang besar. Dengan segera Ki Ageng Tingkir pun berangkat menuju desa Pengging dengan membawa seperangkat perlengkapan pakaian untuk menginap dan seperangkat peralatan untuk mendalang. Setiba di desa Pengging, Ki Ageng Tingkir segera menuju rumah Ki Kebo Kenongo yang terletak di kaki bukit jauh dari keramaian kota. Pada waktu itu Ki Kebo Kenongo yang juga dikenal dengan nama Ki Ageng Pengging berada di halaman rumahnya sedang menanam jagung. Mereka berdua pun saling bertegur sapa dan berpelukan melepas rasa rindu karena sudah sekian lama mereka tak lagi pernah berjumpa semenjak pemakaman guru mereka Syeh Siti Jenar yang dieksekusi mati oleh raja Demak melalui para wali. 

 “Waduh… Kang Mas Tingkir! Bagaimana kabarnya? Ada apakah gerangan jauh-jauh begini menyempatkan diri bertandang ke rumahku yang berada jauh di kaki bukit ini?” Demikian sapa Ki Kebo Kenongo kepada kakak seperguruannya Ki Ageng Tingkir. 

Konon saat Ki Ageng Tingkir bermalam di rumah Ki Kebo Kenongo, ia berkeinginan sekali untuk menggelar pertunjukan wayang beber. Pada masa itu tontonan yang sangat digemari masyarakat adalah wayang beber, yaitu wayang-wayangnya merupakan gambar-gambar yang dilukis pada kain panjang dan lebar dan sang dalanglah yang menjelaskan dan menceritakan jalan cerita atau lakon yang ditentukannya. 

 “Sudahlah rayi Kebo Kenongo, janganlah rayi pura-pura tidak tahu manakala aku akan bertandang ke rumahmu untuk menjumpaimu. Sengaja aku datang kemari untuk mendalang wayang karena besok malam sudah waktunya istrimu Nyi Pengging akan melahirkan putramu yang kelak akan menjadi orang besar itu.” “Oya, Rayi Kebo Kenongo! Besok aku akan menggelar pertunjukan wayang dan mendalang di sini, adapun cerita yang akan aku bawakan adalah kisah tentang Dewa Ruci.” 

 “Baiklah Kang Mas. Terus terang, aku bahagia dan terharu sekali dengan segala kebaikanmu ini. Sekarang aku akan undang para tetangga untuk mempersiapkan segala sesuatunya agar pertunjukan wayang akan berjalan dengan sebaik-baiknya besok malam.” 

Dengan antusias Ki Kebo Kenongo merespon dengan apa yang diucapkan Ki Ageng Tingkir. Pada saat itu juga ia segera memberitahukan kepada semua tetangganya terdekat untuk membantu persiapan pertunjukan wayang besok. Pada keesokan malam hari, setelah waktu sholat Isya telah lewat, dimulailah pertunjukan wayang beber oleh dalang Ki Ageng Tingkir dengan mengambil cerita lakon Dewa Ruci. Bunyi music gamelan wayang mengalun dengan irama gendang yang menghentak-hentak menguak kesunyian malam mengiringi cerita Dewa Ruci yang dibawakan oleh sang dalang. Banyak penduduk desa Pengging bahkan dari luar desa Pengging yang datang untuk menyaksikan pertunjukan wayang tersebut. Mereka ada yang bersorak kagum dan terpesona oleh kemahiran cerita yang dipaparkan oleh Ki Dalang Tingkir. 

 Dalam lakon Dewa Ruci dikisahkan Raden Arya Sena atau Bima masuk ke dalam alam keabadian yaitu alam kelanggengan yang diibaratkan dengan sebilah keris masuk ke dalam warangkanya atau sarungnya. Dalam alam keabadian itu Sang Bima Sena merasa dirinya berada dalam sungsang bawono balik, dunia yang terbalik seperti pada alam semesta yang dalam keadaan sunyi, tenang, tentram dan damai. Menjelang pukul tiga malam, saat para penonton sedang asyik menikmati pertunjukan wayang beber, Nyai Ageng Pengging istri Ki Kebo Kenongo melahirkan seorang putra yang memancarkan sinar kekuning-kuningan yang memancar ke seluruh ruangan di tempat itu. Hal ini sebagai pertanda bahwa bayi itu kelak di kemudian hari akan menjadi orang besar yang akan mengukir sejarah tanah Jawa. Ki Ageng Tingkir berhenti mendalang. Ia kemudian menyempatkan diri untuk merawat bayi yang baru lahir itu sampai selesai. Dengan tutur bahasa yang lemah lembut ia berkata kepada Ki Kebo Kenongo: 

 “Rayi Kebo Kenongo, putramu ini memancarkan sinar cahaya kekuningan dari sela kedua keningnya. Jika rayi berkenan, putramu ini aku beri nama Mas Karebet, mengingat dalam waktu yang bersamaan, saat aku mendalang, putramu lahir. Dan pada saat yang bersamaan pula kain bergambar wayang yang terbentang itu tertiup angin dan mengeluarkan bunyi krrrebeeet.”  

Demikian tutur Ki Ageng Tingkir sambil menggendong bayi putra Ki Kebo Kenongo yang memancarkan cahaya sinar kekuningan di malam itu. Kemudian Ki Ageng Tingkir Melanjutkan kata-katanya:

 “Rayi Ki Ageng Pengging, jika berkenan pula, sesungguhnya aku ingin sekali mengasuh putramu. Percayalah, aku akan mengasuh dan mendidiknya dengan baik, penuh kasih sayang seperti putraku sendiri. Kelak, tentu ia akan menjadi orang besar seperti pertanda yang ada pada celah di antara kedua keningnya.”

Mendengar semua penuturan kakak seperguruannya Ki Ageng Tingkir, Ki Kebo Kenongo dan istrinya Nyai Pengging menyetujuinya, lalu berkata: 

 “Kalau memang demikian keinginan kanda Ki Ageng Tingkir, aku tak berkeberatan dan aku menyetujuinya.” “Baiklah jika demikian, nanti di hari ketujuh setelah aku menginap selama tujuh hari di rumahmu, aku akan membawanya pulang Mas Karebet.” 

Setelah bermalam di rumah Ki Kebo Kenongo selama tujuh hari tujuh malam, Ki Ageng Tingkir pun memohon diri untuk kembali ke rumahnya di Ardipurwa, desa Tingkir dengan membawa bayi Mas Karebet putra adik seperguruannya, Ki Kebo Kenongo. Singkat cerita, setiba di desa Tingkir Adipurwa, Ki Ageng Tingkir langsung menemui istrinya Nyai Gede Tingkir dan menceritakan semuanya. Nyai Gede Tingkir sangat gembira dan bahagia sekali karena mendapatkan putra yang begitu mungil, sehat, bercahaya penuh daya pesona bagi siapa saja yang melihatnya. Yakh, dialah Mas Karebet yang di masa mudanya kelak bernama Joko Tingkir. Setelah menjadi raja Pajang,Joko Tingkir bergelar Sultan Hadiwijaya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar