Sabtu, 12 Maret 2016

Blog Ki Slamet : "Pusaka Leluhur"
Sabtu, 12 Maret 2016 - 19:45 WIB



Transkripsi
Terjemahan Bebas
1
Rejeki iku ora isâ ditiru, senajan pâdâ lakumu, senajan pâdâ dodolanmu, senajan pâdâ nyambut gawemu.  Khasil sing ditâmpâ bakal bedâ-bedâ
1
Rejeki itu tidaklah mampu ditiru, meskipun sama jalanmu, meskipun sama jualanmu,
meskipun sama pekerjaanmu.  Hasil yang diterima bakal beda-beda satu sama lainnya.

2
Iså bedå anå neng akehe båndhå, iså ugå ånå neng råså lan ayême ati, yaitu yang namanya bahagia.
2
Bisa lain dalam banyaknya harta, bisa lain dalam rasa bahagia dan ketenteraman hati, yaitu yang namananya bahagia.
3
Kabeh iku såkå trenane Gusti kang måhå kuåså,  Såpå temen bakal tinemu, såpå wani rekåså bakal nggayuh mulyå,
3
Semua itu atas kasih dari Tuhan Yang Maha Kuasa,  Siapa bersungguh-sungguh akan menemukan, siapa berani bersusah payah akan menemukan kemuliaan. Siapa bersungguh-sungguh akan menemukan, siapa berani bersusah payah akan menemukan kemuliaan.
4
Såpå temen bakal tinemu, såpå wani rekåså bakal nggayuh mulyå,  Dudu akehe, nanging bêrkahe kang dadekake cukup lan nyukupi,
4
Siapa bersungguh-sungguh akan menemukan, siapa berani bersusah payah akan menemukan kemuliaan.  Bukan banyaknya, melainkan berkahnya yang menjadikan cukup dan mencukupi.
5
Wis ginaris neng takdire menungså yen åpå sing urip kuwi wis disangoni såkå sing kuåså.
5
Sudah digariskan oleh takdir bahwa semua yang hidup itu sudah diberi bekal oleh yang maha kuasa.
6
Dalan urip lan pangane wis cemepak cedhak kåyå angin sing disedhot bendinane,

6
Jalan hidup dan rejeki sudah tersedia, dekat seperti udara yang kita hirup setiap harinya,
7
Nanging kadhang menungså silap måtå lan peteng atine, sing adoh såkå awake katon padhang cemlorot ngawe-awe, nanging sing cedhak neng ngarepe lan dadi tanggung jawabe disisiå kåyå ora duwe gunå,

7.
Tetapi manusia silau mata dan gelap hati, yang jauh nampak berkilauan dan menarik hati, namun yang dekat di depannya disia-siakan seperti tak berguna.
8
Rejeki iku wis cemepak såkå Gusti, ora bakal kurang anane kanggo nyukupi butuhe menungså såkå lahir tekane pati,

8
Rejeki itu sudah disediakan oleh Tuhan, tidak bakal berkurang untuk mencukupi kebutuhan manusia sampai mati,
9
Nanging yen kanggo nuruti karep menungså sing ora ånå watese rasanane kabeh cupet, neng pikiran ruwet, lan atine marahi bundhet.

9
Namun jika menuruti kemauan manusia yang tak ada batasnya, semua dirasa kurang, membuat ruwet dihati dan pikiran.
10
Welinge wong tuå, åpå sing ånå dilakoni lan åpå sing durung ånå åjå diarep-arep, semelehke lan yen ws dadi duwekmu bakal tinemu, yen ora jatahmu, åpå maneh kok ngerebut såkå wong liyå nganggå cårå sing ålå, yå wae, iku bakal gawe uripmu lårå, rekåså lan angkårå murkå sak jrning kaluargå, kabeh iku bakal sirnå balik dadi sakmestine.


10
Pituah orang tua, jalanilah apa yangg ada di depan mata dan jangan terlalu berharap lebih untuk yang belum ada. Jika memang milikmu pasti akan ketemu, jika bukan jatahmu, apalagi sampai merebut milik orang menggunakan cara tidak baik, itu akan membuat hidupmu merana, sengsara dan angkara murka, semua itu akan sirna kembali ke asalnya.
11
Yen umpåmå ayem iku mung biså dituku karo akehe bådhå dahnå rekasane dadi wong sing ora duwe,
10
Jika ketereraman itu bisa dibeli dengan harta, alangkah sengsaranya orang yang tidak punya,

12
Untungnge ayem isa diduweni såpå wae sing gelem ngleremke atine ing bab kadonyan, seneng tetulung marang liyan, lan pasrahke uripe mareng Gusti Kang Murbeng Dumadi,

12
Untunlah, ketenteraman bisa dimiliki siapa saja yang tidak mengagungkan keduniawian, suka menolong orang lain dan mensyukuri hidupnya,


Ki Slamet 42
Bumi Pangarakan, Bogor
Sabtu, 12 Maret 2016 – 17:48 WIB

Sabtu, 04 Juli 2015

DUA BUAH PUISI KEJAWEN KARYA KI SLAMET 42

Image: "Syekh Siti Jelar" ( Digambar oleh Ki Slamet 42 )
Syeh Siti Jenar

“AJARANMU ITU SESAT DAN KELIRU”
Karya : Ki Slamet 42

Mengapa kau merasa pandanganmu benar Siti Jenar?
Bahwa  kehidupan manusia di alam dunia marcapada
Sesungguhnya adalah hidup berada di alam kematian
Yang terdiri atas kehidupan  di syurga dan di neraka
Sebagaimana dasar acuan pikirmu, dalil Samarkandi:
“Amal mayit  pikruhi  fayatiju  kabilihu” yang berarti,
Sesungguhnya orang mati,  menemukan jiwa raganya
Dan,  akan memperoleh  pahala  syurga serta neraka
Dalam bentuk rasa suka bahagia, dan rasa duka lara
Yang dijalaninya di alam kematian, kehidupan dunia

Dalam pandanganmu hidup yang masih ada akhirnya
Seperti hidup di alam marcapada ini,  sesungguhnya
Bukan kehidupan melainkan kematian,  oleh  karena
Setiap yang hidup berakhir dengan mati adalah fana
Hidup itu  abadi,  ia selalu ada dan tak ada akhirnya
Hingga ke empat muridmu yang pandai  berprabawa
Ki Bisono Ki Danabaya Ki Canthula, Ki Pringgabaya
Yang cerdas, pintar, dan pandai itu berpikiran sama
Bahwa, dunia ini  adalah  alam kematian  yang hanya
Banyak berisi keburukan, kesialan, nestapa, samsara

Menurut pandangan pikirmu dalam alam dunia fana
Yang adalah alam kematian,  manusia  dipenuhi dosa
Siang dan malam bergumul dengan panas api neraka
Tidur berselimutkan rasa sehat dan sakit perih luka
Siang bergumul dengan rasa lelah, lapar dan dahaga
Lain halnya apabila ‘lah bebas lepas dari alam dunia
Dari alam kematian,  manusia akan hidup sempurna
Menuju ke alam kelanggengan hidup kekal dan baqa
Yang tak ada pagi, siang, sore,  atau malam hari tiba
Kehidupan yang sebenarnya tidak ada awal akhirnya

Akibat pengaruh ajaran sesatmu bersama muridmu
Banyak  yang mengulah ngelmu  dengan berperilaku
Berbuat onar, bermabuk-mabukan,  membunuh  keji
Berbuat teror di sana sini bahkan sampai bunuh diri
Yang dipengaruh  ajaran religi sesat agar cepat mati
Untuk segera menuju ke alam kehidupan yang sejati
Hidup sebenar-benarnya hidup di alam lestari abadi
Yang tak lagi mengenal  duka nestapa,  lara samsara
Yang dipenuhi gelimang nikmatnya rasa  swargaloka
Menyatu di dalam Zat Rab Maha Kekal Maha Baqa  

Kamis, 03 Juli 2015 – 12:08 WIB
Ki Slamet 42 di Kp. Pangarakan, Bogor


“HENING CIPTA PIJAKAN ROHANI JIWA”
Karya: Ki Slamet 42

Samadi adalah hening cipta tuk mencari sasmita
Perihal warta batin di masa lampau dan di muka
Untuk dijadikan kuatnya dasar pijak rohani jiwa
Dalam hadapi bermacam godaan alam mayapada
Dimana kemewahan harta adalah derajat utama

Tetapi manusia acapkali seringlah lupa dan alpa
Sangat gandrung bahkan menjadi linglung harta
Melakukan kekutug, sesaji dan membakar dupa
Memohon kepada para lelembut dan roh Tetua
Agar ajeg terjaga segala derajat kewahan dunia

Berkasak-kusuk di belakang menusuk cari muka
Pandai bersilat lidah, dan berlembut tutur kata
Berkumat-kamit mantrai aji mumpung jala sutra
Agar semua tak berkutik tak bisa buat apa-apa
Terbelenggu dalam kelemahan atas pengaruhnya

Padahal hidup di alam maya hanyalah sementara
Segala harta, kemewahan, dan jabatan kan sirna
Yang hanya nikmat di awalnya, samsara akhirnya
Maka janganlah berbangga dan berbusung dada
Pabila Tuhan murka yang kau miliki sirna semua

Maka bersamadilah berhening cipta cari sasmita
Renungkan segala perilaku lampau  nan angkara
Untuk melangkah ke depan dalam putihnya jiwa
Terejawantah di  dalam tingkah polah laku raga
Yang selalu akan memancar di mana saja berada 

Bumi Pangarakan, Bogor
Rabu, 17 Juni 2015 – WIB
 

 

Kamis, 01 Januari 2015

Selasa, 22 April 2014

EMPAT PENDEKAR GAIB SUNAN KALIJAGA



Oleh: Herman Adreij Adriansyah
 
Sunan Kalijaga
Siang dan malam keempat pendekar gaib ini setia menunggu kita. Saat genting dan bahaya, dia menyeret kita ke tempat yang aman. Saudara penjaga gaib ini bukan jin bukan pula gendruwo.

Pusaka Leluhur – Senin, 21 April 2014 – Semakin lama belajar ajaran-ajaran leluhur Jawa, kita akan semakin terkagum-kagum pada para nenek moyang. Ilmu yang mereka ajarkan tidak bertentangan dengan agama, bahkan sesuai dan memperkaya pemahaman agama yang kita anut.

Sayangnya banyak yang masih memandang sebelah mata ajaran para leluhur Jawa ini. Bahkan ada yang menuduhnya sebagai syirik, khurofat dan takhayul. Para penuduh ini mungkin lupa, bahwa ajaran Jawa disampaikan secara sederhana agar mudah dipahami orang Jawa. Memang, para leluhur kita kadang tidak fasih melafalkan kata-kata Arab. Para leluhur ini juga orang yang masih gagap iptek. Namun, jangan salah sangka dulu.

Dari segi kebijaksanaan, ngelmu batin dan olah rasa para nenek moyang kita dulu bisa diandalkan. Mereka adalah para waskita yang mampu membangun candi Borobudur, Prambanan dan mampu membuat sebuah bangunan dengan ketepatan geometris dan geologis. Tidak kalah oleh nenek moyang bangsa Mesir yang mampu membangun piramida, atau nenek moyang suku Inca, bangsa Peru yang bisa membangun Manchu Picchu.

Saat agama Islam masuk ke nusantara, sementara di Jawa saat itu sudah berkembang agama Hindu, Budha dan berbagai kepercayaan animisme, dinamisme, politeisme. Islam melebur secara pelan dan damai, berasimilasi serta berosmosis tanpa pertumpahan darah. Islam agama damai dan tidak memaksa. Orang Jawa bersifat pasrah, sumeleh, sumarah, ikhlas dan mengandalkan rasa pangrasa. Jadi? Klop sudah!

Bagi orang Jawa, masuknya Agama Islam yang kaya dengan aspek kebatinan (tasawuf) sangatlah tepat. Orang Jawa pun tidak kebingungan dengan ajaran-ajaran mistik yang ada di dalamnya. Namun orang Jawa berhasil menyederhanakan ajaran-ajaran mistik ini dengan terminologi dan kalimat-kalimat sederhana dan mudah dimengerti. Harap maklum saja, orang Jawa dulu mayoritas hidup di pedesaan yang sederhana dan tidak banyak berwacana ilmiah.

Salah satu ajaran Kejawen yang membahas tentang adanya malaikat pendamping hidup manusia adalah SEDULUR PAPAT LIMO PANCER. Pancer adalah tonggak hidup manusia yaitu dirinya sendiri. Diri kita dikelilingi oleh empat makhluk gaib yang tidak kasat mata (metafisik). Mereka adalah saudara yang setia menemani hidup kita. Mulai dilahirkan di dunia hingga kita nanti meninggal dunia menuju alam barzakh (alam kelanggengan).

Sebelum hadirnya agama Islam, orang Jawa tidak memahami konsep malaikat. Maka mereka menyebut malaikat penjaga manusia dengan sedulur papat. Konsep “sedulur papat” ini oleh orang Jawa ditamsilkan melalui sebuah pengamatan/niteni.

Mulai saat janin tumbuh di perut ibu, janin dilindungi di dalam rahim oleh ketuban. Selanjutnya adalah ari-ari, darah dan pusar. Itulah saudara manusia sejak awal dia hidup dan selanjutnya “empat saudara” ini kemudian dikubur. Namun orang Jawa Percaya bahwa “empat saudara” ini tetap menemani diri manusia hingga ke liang lahat.

Karena Air Ketuban adalah yang pertama kali keluar saat ibu melahirkan, orang Jawa menyebutnya SAUDARA TUA. Saudara ini melindungi jasad fisik dari bahaya. Maka ia adalah SANG PELINDUNG FISIK.

Selanjutnya yang lebih MUDA adalah ari-ari, tembuni atau plasenta. Pembungkus janin dalam rahim. Ia melingkupi tindakan janin dalam rahim yang kemudian mengantarkan kita ke tujuan. Maka ia adalah SANG PENGANTAR.

Saudara kita selanjutnya adalah DARAH. Darah ini membantu janin kecil untuk tumbuh berkembang menjadi bayi lengkap. Darah adalah SARANA DAN WAHANA IRADAT-NYA pada manusia. Darah bisa disebut nyawa bagi janin. Maka, darah disebut dengan PEMBANTU SETIA MANUSIA MENEMUKAN JATI DIRINYA SEBAGAI HAMBA TUHAN, CERMIN TUHAN (Imago Dei).

Saudara gaib kita terakhir adalah pusar. Menurut pemahaman Kejawen, pusar adalah NABI. Pusar secara biologis adalah tali yang menghubungkan perut bayi dalam rahim dan ari-ari. Pusar mendistribusikan makanan yang dikonsumsi ibu ke bayi. Pusar dengan demikian MENDISTRIBUSIKAN WAHYU “IBU” MANUSIA yaitu Gusti Allah SWT kepada diri kita.

Keempat saudara gaib ini sesungguhnya adalah EMPAT MALAIKAT PENJAGA manusia. Yang berada di kanan-kiri, depan-belakang kita. Maka, tidak salah bila Anda menyapa dan bersahabat akrab dengan mereka. Secara gaib, Tuhan mmeberikan pengajaran tidak langsung kepada hati kita. Namun melalui mereka pengajaran itu disampaikan.

Keempat penjaga (malaikat) itu adalah:
JIBRIL (Penerus informasi Tuhan untuk kita), IZRAFIL (Pembaca Buku Rencana Tuhan untuk kita),
MIKAIL (Pembagi Rezeki untuk kita) dan
IZRAIL (Penunggu berakhirnya nyawa untuk kita).

Keempat malaikat itu oleh orang Jawa dianggap sebagai SEDULUR karib hidup manusia. Bila kita paham bahwa perjalanan hidup untuk bertemu dengan Tuhan hakikatnya adalah perjalanan menuju “ke dalam” bukan “ke luar”. Perjalanan menembus langit ketujuh hakikatnya adalah perjalanan “diri palsu” menuju “diri sejati” dan menemukan SANG AKU SEJATI, YAITU DIRI PRIBADI/ TUHAN.

Untuk menemukan SANG AKU SEJATI (limo pancer) itulah kita ditemani oleh EMPAT SAUDARA GAIB/MALAIKAT PENUNGGU (sedulur papat). Lantas dimana mereka sekarang? Mereka sekarang sedang mengawasi Anda. Berdzikir mengagungkan asma-Nya. Kita bisa menjadikan mereka sedulur paling akrab bila paham bagaimana cara berkomunikasi dengan mereka. Caranya? Pejamkan mata, matikan seluruh aktivitas listrik di otak kiri dan kanan dan hidupkan sang AKU SEJATI yang ada di dalam diri Anda. Ya, hanya diri sendirilah yang mampu untuk berkomunikasi dengan para sedulur gaib nan setia ini.

Bagaimana tidak setia, bila kemanapun kita berada disitu keempatnya berada. Bila kita berjalan, mereka terbang. Bila jasad kita tidur, mereka akan tetap melek ngobrol dengan ruh kita. Maka, saat bangun tidur di siang hari pikiran kita akan merasa fresh sebab ruh kita akan kembali menjejerkan diri kita dengan iradat-Nya. Sayang, saat waktu beranjak siang polusi nafsu/ego lebih dominan sehingga kebeningan akal pikiran semakin tenggelam.

Bagaimana agar hidup kita selalu ingat oleh kehadiran sedulur papat ini yang setia menjaga kita? Sunan Kalijaga memiliki kidung bagus:

Ana kidung akadang premati
Among tuwuh ing kuwasanira
Nganakaken saciptane
Kakang kawah puniku
Kang rumeksa ing awak mami
Anekakaken sedya
Pan kuwasanipun adhi ari-ari ika
Kang mayungi ing laku kuwasaneki
Anekaken pangarah


Ponang getih ing rahina wengi
Angrowangi Allah kang kuwasa
Andadekaken karsane
Puser kuwasanipun
Nguyu uyu sambawa mami
Nuruti ing panedha
Kuwasanireku
Jangkep kadang ingsun papat
Kalimane pancer wus dadi sawiji
Nunggal sawujudingwang


(Ada nyanyian tentang saudara kita yang merawat dengan hati-hati. Memelihara berdasarkan kekuasaannya. Apa yang dicipta terwujud. Ketuban itu menjaga badan saya. Menyampaikan kehendak dengan kuasanya. Adik ari-ari tersebut memayungi perilaku berdasar arahannya.
Darah siang malam membantu Allah Yang Kuasa. Mewujudkan kehendak-Nya. Pusar kekuasaannya memberi perhatian dengan kesungguhan untuk saya. Memenuhi permintaan saya. Maka, lengkaplah empat saudara itu. Kelimanya seagai pusat sudah jadi satu. Manunggal dalam perwujudan saya saat ini) @.wongalus.2009

Sumber:
Warisan Adiluhung (http://budayaleluhur.blogspot.com)