Tampilkan postingan dengan label Kejawen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kejawen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 April 2014

EMPAT PENDEKAR GAIB SUNAN KALIJAGA



Oleh: Herman Adreij Adriansyah
 
Sunan Kalijaga
Siang dan malam keempat pendekar gaib ini setia menunggu kita. Saat genting dan bahaya, dia menyeret kita ke tempat yang aman. Saudara penjaga gaib ini bukan jin bukan pula gendruwo.

Pusaka Leluhur – Senin, 21 April 2014 – Semakin lama belajar ajaran-ajaran leluhur Jawa, kita akan semakin terkagum-kagum pada para nenek moyang. Ilmu yang mereka ajarkan tidak bertentangan dengan agama, bahkan sesuai dan memperkaya pemahaman agama yang kita anut.

Sayangnya banyak yang masih memandang sebelah mata ajaran para leluhur Jawa ini. Bahkan ada yang menuduhnya sebagai syirik, khurofat dan takhayul. Para penuduh ini mungkin lupa, bahwa ajaran Jawa disampaikan secara sederhana agar mudah dipahami orang Jawa. Memang, para leluhur kita kadang tidak fasih melafalkan kata-kata Arab. Para leluhur ini juga orang yang masih gagap iptek. Namun, jangan salah sangka dulu.

Dari segi kebijaksanaan, ngelmu batin dan olah rasa para nenek moyang kita dulu bisa diandalkan. Mereka adalah para waskita yang mampu membangun candi Borobudur, Prambanan dan mampu membuat sebuah bangunan dengan ketepatan geometris dan geologis. Tidak kalah oleh nenek moyang bangsa Mesir yang mampu membangun piramida, atau nenek moyang suku Inca, bangsa Peru yang bisa membangun Manchu Picchu.

Saat agama Islam masuk ke nusantara, sementara di Jawa saat itu sudah berkembang agama Hindu, Budha dan berbagai kepercayaan animisme, dinamisme, politeisme. Islam melebur secara pelan dan damai, berasimilasi serta berosmosis tanpa pertumpahan darah. Islam agama damai dan tidak memaksa. Orang Jawa bersifat pasrah, sumeleh, sumarah, ikhlas dan mengandalkan rasa pangrasa. Jadi? Klop sudah!

Bagi orang Jawa, masuknya Agama Islam yang kaya dengan aspek kebatinan (tasawuf) sangatlah tepat. Orang Jawa pun tidak kebingungan dengan ajaran-ajaran mistik yang ada di dalamnya. Namun orang Jawa berhasil menyederhanakan ajaran-ajaran mistik ini dengan terminologi dan kalimat-kalimat sederhana dan mudah dimengerti. Harap maklum saja, orang Jawa dulu mayoritas hidup di pedesaan yang sederhana dan tidak banyak berwacana ilmiah.

Salah satu ajaran Kejawen yang membahas tentang adanya malaikat pendamping hidup manusia adalah SEDULUR PAPAT LIMO PANCER. Pancer adalah tonggak hidup manusia yaitu dirinya sendiri. Diri kita dikelilingi oleh empat makhluk gaib yang tidak kasat mata (metafisik). Mereka adalah saudara yang setia menemani hidup kita. Mulai dilahirkan di dunia hingga kita nanti meninggal dunia menuju alam barzakh (alam kelanggengan).

Sebelum hadirnya agama Islam, orang Jawa tidak memahami konsep malaikat. Maka mereka menyebut malaikat penjaga manusia dengan sedulur papat. Konsep “sedulur papat” ini oleh orang Jawa ditamsilkan melalui sebuah pengamatan/niteni.

Mulai saat janin tumbuh di perut ibu, janin dilindungi di dalam rahim oleh ketuban. Selanjutnya adalah ari-ari, darah dan pusar. Itulah saudara manusia sejak awal dia hidup dan selanjutnya “empat saudara” ini kemudian dikubur. Namun orang Jawa Percaya bahwa “empat saudara” ini tetap menemani diri manusia hingga ke liang lahat.

Karena Air Ketuban adalah yang pertama kali keluar saat ibu melahirkan, orang Jawa menyebutnya SAUDARA TUA. Saudara ini melindungi jasad fisik dari bahaya. Maka ia adalah SANG PELINDUNG FISIK.

Selanjutnya yang lebih MUDA adalah ari-ari, tembuni atau plasenta. Pembungkus janin dalam rahim. Ia melingkupi tindakan janin dalam rahim yang kemudian mengantarkan kita ke tujuan. Maka ia adalah SANG PENGANTAR.

Saudara kita selanjutnya adalah DARAH. Darah ini membantu janin kecil untuk tumbuh berkembang menjadi bayi lengkap. Darah adalah SARANA DAN WAHANA IRADAT-NYA pada manusia. Darah bisa disebut nyawa bagi janin. Maka, darah disebut dengan PEMBANTU SETIA MANUSIA MENEMUKAN JATI DIRINYA SEBAGAI HAMBA TUHAN, CERMIN TUHAN (Imago Dei).

Saudara gaib kita terakhir adalah pusar. Menurut pemahaman Kejawen, pusar adalah NABI. Pusar secara biologis adalah tali yang menghubungkan perut bayi dalam rahim dan ari-ari. Pusar mendistribusikan makanan yang dikonsumsi ibu ke bayi. Pusar dengan demikian MENDISTRIBUSIKAN WAHYU “IBU” MANUSIA yaitu Gusti Allah SWT kepada diri kita.

Keempat saudara gaib ini sesungguhnya adalah EMPAT MALAIKAT PENJAGA manusia. Yang berada di kanan-kiri, depan-belakang kita. Maka, tidak salah bila Anda menyapa dan bersahabat akrab dengan mereka. Secara gaib, Tuhan mmeberikan pengajaran tidak langsung kepada hati kita. Namun melalui mereka pengajaran itu disampaikan.

Keempat penjaga (malaikat) itu adalah:
JIBRIL (Penerus informasi Tuhan untuk kita), IZRAFIL (Pembaca Buku Rencana Tuhan untuk kita),
MIKAIL (Pembagi Rezeki untuk kita) dan
IZRAIL (Penunggu berakhirnya nyawa untuk kita).

Keempat malaikat itu oleh orang Jawa dianggap sebagai SEDULUR karib hidup manusia. Bila kita paham bahwa perjalanan hidup untuk bertemu dengan Tuhan hakikatnya adalah perjalanan menuju “ke dalam” bukan “ke luar”. Perjalanan menembus langit ketujuh hakikatnya adalah perjalanan “diri palsu” menuju “diri sejati” dan menemukan SANG AKU SEJATI, YAITU DIRI PRIBADI/ TUHAN.

Untuk menemukan SANG AKU SEJATI (limo pancer) itulah kita ditemani oleh EMPAT SAUDARA GAIB/MALAIKAT PENUNGGU (sedulur papat). Lantas dimana mereka sekarang? Mereka sekarang sedang mengawasi Anda. Berdzikir mengagungkan asma-Nya. Kita bisa menjadikan mereka sedulur paling akrab bila paham bagaimana cara berkomunikasi dengan mereka. Caranya? Pejamkan mata, matikan seluruh aktivitas listrik di otak kiri dan kanan dan hidupkan sang AKU SEJATI yang ada di dalam diri Anda. Ya, hanya diri sendirilah yang mampu untuk berkomunikasi dengan para sedulur gaib nan setia ini.

Bagaimana tidak setia, bila kemanapun kita berada disitu keempatnya berada. Bila kita berjalan, mereka terbang. Bila jasad kita tidur, mereka akan tetap melek ngobrol dengan ruh kita. Maka, saat bangun tidur di siang hari pikiran kita akan merasa fresh sebab ruh kita akan kembali menjejerkan diri kita dengan iradat-Nya. Sayang, saat waktu beranjak siang polusi nafsu/ego lebih dominan sehingga kebeningan akal pikiran semakin tenggelam.

Bagaimana agar hidup kita selalu ingat oleh kehadiran sedulur papat ini yang setia menjaga kita? Sunan Kalijaga memiliki kidung bagus:

Ana kidung akadang premati
Among tuwuh ing kuwasanira
Nganakaken saciptane
Kakang kawah puniku
Kang rumeksa ing awak mami
Anekakaken sedya
Pan kuwasanipun adhi ari-ari ika
Kang mayungi ing laku kuwasaneki
Anekaken pangarah


Ponang getih ing rahina wengi
Angrowangi Allah kang kuwasa
Andadekaken karsane
Puser kuwasanipun
Nguyu uyu sambawa mami
Nuruti ing panedha
Kuwasanireku
Jangkep kadang ingsun papat
Kalimane pancer wus dadi sawiji
Nunggal sawujudingwang


(Ada nyanyian tentang saudara kita yang merawat dengan hati-hati. Memelihara berdasarkan kekuasaannya. Apa yang dicipta terwujud. Ketuban itu menjaga badan saya. Menyampaikan kehendak dengan kuasanya. Adik ari-ari tersebut memayungi perilaku berdasar arahannya.
Darah siang malam membantu Allah Yang Kuasa. Mewujudkan kehendak-Nya. Pusar kekuasaannya memberi perhatian dengan kesungguhan untuk saya. Memenuhi permintaan saya. Maka, lengkaplah empat saudara itu. Kelimanya seagai pusat sudah jadi satu. Manunggal dalam perwujudan saya saat ini) @.wongalus.2009

Sumber:
Warisan Adiluhung (http://budayaleluhur.blogspot.com)

Jumat, 17 Agustus 2012

Syeh Siti Jenar Versi Negara Kertabumi


Jumat, 17 Agustus 2012-Denmas Priyadi Blog:  Cerita eksekusi Syeh Siti Jenar versi Serat Negara Kertabumi berbeda dengan versi-versi lain yang biasa kita baca dan saksikan dalam buku-buku maupun film. Hal ini sebagaimana suntingan Rahman Sulendraningrat dalam buku "Siti Jenar-Cikal Bakal Faham Kejawen" tulisan YB. Prabaswara, halaman 32-34:

    "Seperti juga versi Jawatengahan, sastra Kacirebonan ini menceritakan bahwa para pengikut Syeh Siti Jenar di Cirebon merupakan kelompok oposisi atas kekuatan kasultanan Cirebon. Beberapa tokoh pimpinan kelompok ini pernah mencoba untuk merebut tahta tapi tak pernah berhasil. Ketika Pengging dilumpuhkan, Syeh Siti Jenar yang pada waktu itu menyebarkan ajarannya di sana kembali ke Cirebon dan diikuti oleh para pengikutnya dari Pengging. Di sini, kekuatan Syeh Siti Jenarmenjadi kokoh, pengikutnya meluas dan menyebar sampai ke desa-desa. Setelah Syeh Datuk Kahfi wafat, Sultan Cirebon meminta Pangeran Punjungan untuk menjadi guru agama Islam di Amparan Jati. Pangeran Punjungan bersedia, tetapi ia tidak mendapat murid karena orang-orang sudah menjadi murid Syeh Siti Jenar termasuk Panglima bala tentara Cirebon, Pangeran Carbon. Dijaga oleh para murid-muridnya  sangat setia itu, Syeh Siti Jenar aman tinggal di Cirebon.

     Berita ini sampai ke telinga Sultan Demak, bahwa musuhnya berada di Cirebon. Sultan Demak lalu mengutus Sunan Kudus disertai 700 prajurit menuju Cirebon. Sultan Cirebon menerima permintaan Sultan Demak dengan tulus, bahkan memberi bantuan untuk tujuan itu.

     Langkah pertama Sultan Cirebon adalah mengumpulkan para murid utama Syeh Siti Jenar  antara lain, Pangeran Carbon, para Kyai Geng, Ki Palumba, Adipati Cangkuang, dan beberapa orang istana Pangkuangwati. Selajutnya bala tentara Cirebon dan Demak bergerak menuju Padepokan Syeh Siti Jenar di Cirebon Girang. Syeh Siti Jenar kemudian ditangkap dan dibawa ke Masjid Agung Cirebon untuk diadili. di sana para ulama telah berkumpul.
    
     Sunan Gunung Jati Gunung Jati bertindak sebagai hakim ketua. Melalui perdebatan yang panjang, pengadilan memutuskan bahwa Syeh Siti Jenar bersalah besar, dan pengadilan memutuskan bahwa Syeh Siti Jenar mendapat hukuman mati. Selang beberapa waktu, akhirnya Syekh Siti Jenar dieksekusi mati oleh Sunan Kudus dengan keris pusaka Sunan Gunung Jati. peristiwa ini terjadi pada bulan Safar, tahun 923 H atau 1506 Masehi. 
 

Mayat Syeh Siti Jenar lalu dimakamkan di suatu tempat yang tidak diketahui.  Akan tetepi lama kelamaan  orang dapat mengetahui  tempat tersebut. Merekapun terutama para pengikut dan murid-murid Syeh Siti  Jenar, mereka berdatangan  berziarah ke makam  Syeh Siti Jenar. Para peziarah itu ada yang datang dari Cirebon, Jakarta, Banten, Parahiyangan,  Jawa Timur, dan bahkan dari Semenanjung Malaya. Melihat kenyataan ini Sunan Gunung Jati  memerintahkan kepada segenap kawulanya agar memindahkan secara diam-diam mayat Syeh Siti Jenar ke suatu tempat yang sangat dirahasiakan.  Mayat Syeh Siti Jenar diganti dengan bangkai seekor anjing hitam. Pada waktu para peziarah, terutama pengikut dan murid-murid Syekh Siti Jenar menghendaki agar mayat Syekh Siti Jenar dipindahkan ke Jawa Timur. Makampun digali kembali, apa yang terlihat? Ternyata mayat Syekh Siti Jenar tidak ada yang ada hanyalah bangkai seekor anjing hitam. Para peziarahpun sangat terkejut, haran dan tidak mengerti mengapa mayat Syeh Siti Jenar berubah menjadi bangkai seekor anjing hitam. Mereka beranggapan kalau mayat syekh Siti Jenar telah berubah menjadi seekor anjing. Menyikapi keadaan seperti ini sultan Cirebon kemudian mengeluarkan instruksi agar para peziarah, dan para pengikut ajaran Syeh Siti  Jenar tidak  menziarahi bangkai seekor anjing dan segera meninggalkan ajaran Syeh Siti Jenar  sesat”.
  


     

Kamis, 08 September 2011

"KITA SEMUA WAYANG": "KITA SEMUA ADALAH WAYANG" By Ki Sukarwo Padepokan Tajul Muluk Kahuripan - Madiun

"KITA SEMUA ADALAH WAYANG" By Ki Sukarwo ( Padepokan Tajul Muluk Kahuripan - Madiun ) 

KAMIS, 8 SEPTEMBER - KITA SEMUA WAYANG: Kata "Kita Semua adalah Wayang" menurut Ki Sukarwo dari Padepokan Tajul Muluk Kahuripan Madiun, "itu sama artinya dengan Ra, Ga, Ra, Ma, yang berarti sudah tiba saatnya tatanan tuntutan Raga Rama menjadi acuan era baru dalam jagad anyar ginelar ini".

Dinyatakan pula, "Sudah saatnya pula Sila pertama dari Pancasila yaitu Ketuhanan yang Maha Esa Maujud di dalam prilaku berbangsa dan bernegara di Negeri Jawadwipa bumi Nusantara Negara Kesatuan Republik Indonesia ( NKRI ) ini".

Lebih lanjut Ki Sukarwo menjelaskan, "Berketuhanan Yang Maha Esa pada manusia tidak sama artinya dengan manusia beragama. Manusia Berketuhanan Yang Maha Esa adalah manusia yang meyakini, bahwa Tuhan Yang Maha Esa itu ada di dalam jiwa dan raganya, dan selalu bersamanya di mana saja dia berada, sampai kapanpun, sampai ajal menjemputnya. Sehingga dengan demikian segala sikap, tutur kata, dan prilakunya memancarkan sifat-sifat Tuhan yang dapat memberikan cahaya kehidupan bagi manusia.

Adapun manusia beragama adalah manusia yang masih mencari keberadaan Tuhan. Dalam referensi Islam disebut "Meniti Thoriqah". ( Denmas Priyadi di Lido - Bogor )

Rabu, 20 April 2011

TENTANG AJARAN SABDA PALON

TENTANG AJARAN SABDA PALON

oleh Slamet Priyadi pada 23 Mei 2010 jam 16:04
SEMAR SIMBOL PENGGAMBARAN MANUSIA YANG TELAH MENCAPAI JANJI GANTHAEWA "MANUSIA SEJATI"

RABU, 20 APRIL 2011-PUSAKA LELUHUR - SABDA PALON menurut informasi yang saya dapat merupakan sebuah "KITAB KUNO" yang berisi ajaran-ajaran moral untuk mencapai MANUSIA SEJATI. Adapun untuk untuk mencapai hal tersebut manusia harus mengamalkan JANJI GANTHARWA yaitu:

1. MENGUTAMAKAN KEMANUNGGALAN DALAM GANTHARWA

Dalam hal ini manusia harus selalu mengingat Tuhan, selalu mempunyai keinginan untuk menyatu dengan Tuhan, menyatu dengan sifat-sifat Tuhan yang maha pengasih, maha bijaksana sehingga prilakunya akan mencerminkan sifat-sifat Tuhan, penuh kasih,adil, jujur, bijaksana, tidak tamak, tidak serakah, tidak sombong dan lain-lain. Manunggal dengan sifat-sifat Tuhan ALLAH yang berwujud manunggal atau menyatu pula prilakunya itu dengan sesama makhluk hidup, manusia, khewan dan alam.

2. MENINGKATKAN KAWRUH DAN LAKU

Dalam hal ini tak ada istilah kata "berhenti" dalam "belajar" karena dalam pandangan orang yang telah mencapai tahapan ini "orang yang pintar adalah orang yang terus menerus mau belajar" dan kemudian mengamalkan, mempraktekkan segala sesuatu yang sudah didapatkan dalam belajarnya itu untuk kebaikan terhadap sesama, tanpa pamrih penuh dengan keikhlasan dalam melakoninya.

3. TEKUN DAN SETIA

Artinya orang yang telah mencapai tahapan ini akan mempunyai sikap yang kosisten dan berkomitmen tinggi dengan apa yang sudah dimilikinya dan diyakininya. mempunyai dedikasi dan loyalitas yang tinggi dalam mengamalkan yang semata-mata hanya untuk keikhlasan dan keridhoan dari Tuhan ALLAH.

Apabila manusia sudah dapat mencapai dan melakoni ke tiga JANJI GANTHARWA tersebut maka di dalam dirinya, di dalam jiwanya bersemayam kuat moralitas jiwa yang SUGIH TANPA BONDO, SAKTI TANPA AJI, NGLURUK TANPA BOLO, MENANG TANPA PEPERANGAN, APA YANG DIINGINKAN DAN SEGALA APA YANG DIKEHENDAKINYA AKAN SEGERA TERWUJUD.

Demikianlah! Wallahu'alam bissawab...
SLAMET PRIYADI di LIDO-BOGOR