Jumat, 24 Agustus 2012

MENGENAL AJARAN HASTA BRATA



JUMAT, 24 AGUSTUS 2012-DENMAS PRIYADI BLOG: Dalam lakon wayang, “Wahyu Makutoromo”, ajaran HASTABRATA disampaikan oleh Sri Betoro Kresno kepada Raden Arjuna. HASTA berarti 8 dan BRATA berarti tingkah laku atau watak. Jadi HASTABRATA merupakan 8 prilaku yang harus dimiliki dan dijalani oleh setiap pemimpin.

Untuk pertamakalinya HASTABRATA disampaikan oleh Raden Regowo, titisan Bhatara Wisnu dari Ayodya kepada adiknya Barata sebelum dinobatkan menjadi raja di Ayodya bergelar Prabu Barata dalam lakon Romo Tundung. Selanjutnya oleh Raden Regowo disampaikan pula kepada Raden Wibisana adik Rahwana dalam lakon “Rahwana Pejah”, “Bedah Alengka”. Dikatakan bahwa kedelapan unsur alam semesta tersebut dapat menjadi teladan perilaku sehari-hari dalam pergaulan masyarakat terlebih lagi dalam rangka memimpin negara dan bangsa dengan implementasi prinsip-prinsip hukum alamiah.

Adapun isi ajaran HASTABRATA adalah bahwa setiapa pemimpin harus memiliki jiwa dan prilaku sebagai berikut:

1. Watak Surya atau matahari diteladani oleh Bhatara Surya
    Matahari memancarkan sinar terang sebagai sumber kehidupan yang membuat semua makhluk tumbuh dan berkembang. Seorang pemimpin hendaknya mampu menumbuh kembangkan daya hidup rakyatnya untuk membangun bangsa dan negara dengan bekal lahir dan batin untuk dapat tetap berkarya.

2. Watak Candra atau Bulan diteladani oleh Bhatari Ratih
    Bulan memancarkan sinar kegelapan malam. Cahaya bulan yang lembut mampu menumbuhkan semangat dan harapan-harapan yang indah. Seorang pemimpin hendaknya mampu memberikan dorongan atau motivasi untuk membangkitkan semangat rakyatnya, dalam suasana suka dan duka.

3. Watak Kartika atau Bintang diteladani oleh Bhatara Ismoyo
    Bintang memancarkan sinar indah kemilau, mempunyai tempat yang tepat di langit hingga dapat menjadi pedoman arah. Seorang pemimpin hendaknya menjadi suri teladan (Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso, Tutwuri Handayani). Tidak ragu lagi menjalankan keputusan yang disepakati, serta tidak mudah terpengaruh oleh pihak yang akan menyesatkan.

4. Watak Angkasa yaitu Langit diteladani oleh Bhatara Indra
    Langit itu luas tak terbatas, hingga mampu menampung apa saja yang datang padanya. Seorang pemimpin hendaknya mempunyai keluasan batin dan kemampuan mengendalikan diri yang kuat, hingga dengan sabar mampu menampung pendapat rakyatnya yang bermacam-macam.

5. Watak Maruta atau Angin diteladani oleh Bhatara Bayu
    Angin selalu ada di mana-mana, tanpa membedakan tempat serta selalu mengisi semua ruang yang kosong. Seorang pemimpin hendaknya selalu dekat dengan rakyat, tanpa membedakan derajat dan martabatnya, bisa mengetahui keadaan dan keinginan rakyatnya. Mampu memahami dan menyerap aspirasi rakyat.

6. Watak Samudra yaitu Laut atau Air diteladani oleh Bhatara Baruna
    Laut, betapapun luasnya, senantiasa mempunyai permukaan yang rata dan bersifat sejuk menyegarkan. Seorang pemimpin hendaknya menempatkan semua orang pada derajat dan martabat yang sama, sehingga dapat berlaku adil, bijaksana, dan penuh kasih sayang terhadap rakyatnya.

7. Watak Dahana atau Api diteladani oleh Bhatara Brahma
    Api mempunya kemampuan untuk membakar habis dan menghancur leburkan segala sesuatu yang bersentuhan dengannya. Seorang pemimpin hendaknya berwibawa dan harus bisa menegakkan kebenaran dan keadilan secara tegas dan tuntas tanpa pandang bulu.

8. Watak Bumi yaitu Tanah diteladani oleh Bhatara Wisnu
    Bumi mempunyai sifat kuat dan bermurah hati. Selalu memberi hasil kepada siapa pun yang mengolah dan memeliharanya dengan tekun. Seorang pemimpin hendaknya berwatak sentosa, teguh dan murah hati, senang beramal dan senantiasa berusaha untuk tidak mengecewakan rakyatnya.
 
A. LAKON “WAHYU MAKUTARAMA”

1. Pengantar
    Lakon “Wahyu Makutarama” adalah bukti kepiawaian para pujangga Nusantara dalam mengadopsi cerita wayang, yang aslinya dari India. Epos India terdiri dari “Ramayana” dan “Mahabharata”. Lakon “Wahyu Makutarama” adalah hasil karya leluhur Nusantara kita, merupakan “titik temu” atau “jembatan penghubung” antara kedua kisah tadi, Dalam lakon ini ada tokoh Gunawan Wibisana dan Anoman, tokoh dalam kisah Ramayana.

2. Ringkasan lakon “Wahyu Makutarama”.
    Syahdan, para dewa mengabarkan kepada para insan marcapada, bahwa telah ada Mahkota yang diberi nama Sri Batara Rama. Barangsiapa memiliki mahkota itu, akan menjadi sakti, dan kelak akan menurunkan raja-raja yang memerintah di marcapada. Karena berkhasiat menurunkan raja-raja, kemudian sering disebut sebagai “Wahyu Makutarama”.

    Prabu Duryudana dari Astina mengutus Adipati Karna untuk memperoleh mahkota sekaligus wahyu tadi. Adipati Karna, dengan diiringi para senapati Kurawa, pergi menemui Begawan Kesawasidi di pertapaan Kutharunggu. Karna meminta wahyu itu, yang diyakininya berada di tangan Kesawasidi. Kesawasidi mengatakan dia tidak punya Makutarama. Adipati Karna marah, dan melepaskan panahnya, yang disambut oleh Anoman, pendamping Kesawasidi. Panah itu ditangkap Anoman, kemudian dipersembahkan kepada Kesawasidi. Bukannya dipuji, Anoman malah ditegur Kesawasidi, karena, dapat dipandang sebagai meragukan kepiawaian kanuragan gurunya. Setelah Karna pergi, datanglah Begawan Wibisana, adik Rahwana, yang sudah berusia lanjut dan ingin segera meninggalkan dunia, kembali ke alam asal. Tidak dilayani oleh Kesawasidi, hingga terjadi pertempuran. Kesawasidi “tiwikrama”, dan sadarlah WIbisana bahwa Kesawasidi titisan Rama, bekas junjungannya dulu. Kesawasidi memberi petunjuk cara kembali ke alam asal. Wibisana pamit, dan dalam perjalanan ke alam asal bertemu sukma Kumbakarna, kakaknya dulu, yang sedang gelisah. Wibisana menasehati Kumbakarna supaya menyatu dengan Bima, ksatria Pandawa. Sementara itu, Arjuna juga berupaya mendapatkan Makutarama. Dia pergi diam-diam dari istananya, kemudian menyamar sebagai pendeta. Selagi bersemedi, Arjuna mendapat “wangsit” untuk menemui Begawan Kesawasidi. Setelah Arjuna datang menghadap, tahulah Kesawasidi bahwa sudah tiba saatnya memberikan wahyu itu kepada orang yang tepat. Diwedarkannya rahasia bahwa Makutarama bukanlah berujud benda, tetapi berupa ajaran luhur yang patut dijadikan pedoman dan dilakoni oleh manusia, terutama yang mengemban tugas sebagai pemimpin. Ajaran luhur ini dinamakan “Asta Brata”, yang intinya meneladan sifat-sifat alam dalam melakoni kehidupan. Asta Brata ini dulunya diajarkan Rama kepada Wibisana, sepeninggal Rahwana, sebagai bekal bagi Wibisana menjadi raja Alengka menggantikan Rahwana. Sepeninggal Arjuna, Bima mencarinya. Dalam pencarian itu, ketemu sukma Kumbakarna, yang kemudian merasuk ke paha kiri Bima. Istri Arjuna, Sumbadra, juga mencari Arjuna. Sumbadra dibantu Betara Narada, dan berubah rupa menjadi ksatria, yang kemudian pergi ke Kutharunnggu menantang perang Arjuna. Dalam perang tanding itu, Kesawasidi datang. dan “badar” lah semuanya. Kesawasidi kembali ke wujud Kresna, sang ksatria penantang kembali menjadi Sumbadra. Arjuna mewarisi wahyu Makutarama berupa ajaran “Asta Brata”, yang kelak diwariskan kepada puteranya, Abimanyu. Anak Abimanyu, Parikesit, belakangan mewarisi tahta kerajaan Hastina.

B. “ASTA BRATA”.

1. Inti ajaran Asta Brata.
    Ajaran Astabrata pada awalnya merupakan ajaran yang diberikan olah Rama kepada Wibisana. Ajaran tersebut terdapat dalam Serat Rama Jarwa Macapat, tertuang pada pupuh 27 Pankur, jumlah bait 35 buah. Pada dua pupuh sebelumnya diuraikan kekalahan Rahwana dan kesedihan Wibisana. Disebutkan, perkelahian antara Rahwana melawan Rama sangat dahsyat. Seluruh kesaktian Rahwana ditumpahkan dalam perkelahian itu, namun tidak dapat menendingi kesaktian Rama. Ia gugur olah panah Gunawijaya yang dilepaskan Rama. Melihat kekalahan kakaknya, Wibisana segera bersujud di kaki jasad kakaknya dan menangis penuh kesedihan. Rama menghibur Wibisana dengan memuji keutamaan Rahwana yang dengan gagah berani sebagai seorang raja yang gugur di medan perang bersama balatentaranya. Oleh Rama, Raden Wibisana diangkat menjadi Raja Alengka menggantikan Rahwana. Rama berpesan agar menjadi raja yang bijaksana mengikuti delapan sifat dewa yaitu Indra, Yama, Surya, Bayu, Kuwera, Brama, Candra, dan Baruna. Itulah yang disebut dengan Asthabrata.

    Dalam lakon Wahyu Makutarama, Prabu Rama menitis kepada Kresna untuk melestarikan Asta Brata dan menurunkannya kepada Arjuna. Setelah itu, Asta Brata diturunkan oleh Arjuna kepada Abimanyu dan diteruskan kepada Parikesit yang kemudian menjadi Raja. Asta Brata adalah simbol alam semesta. Arti harfiahnya “delapan simbol alam”, tetapi sejatinya menyiratkan keharmonisan sistem alam semesta. Pada hakikatnya kedelapan sifat tersebut merupakan manifestasi keselarasan yang terdapat pada tata alam semesta yang diciptakan Tuhan, dan manusia harus menyelaraskan diri dengan tata alam semesta kalau ingin selamat dan terhindar malapetaka. Bila manusia, sebagai ciptaan Tuhan, bisa selaras dengan alam semesta, maka selaraslah kehidupannya. Delapan simbol alam itu adalah: bumi, geni, banyu, angin, srengenge, bulan, lintang, dan awan. Mengambil kedelapan simbol alam sebagai contoh, itu lah inti ajaran Asta Brata, sebagai pedoman tingkah laku seorang raja, yang secara singkat dapat dirangkum sebagai: “Dapat memberikan kesejukan dan ketentraman kepada warganya; membasmi kejahatan dengan tegas tanpa pandang bulu; bersifat bijaksana, sabar, ramah dan lembut; melihat, mengerti dan menghayati seluruh warganya; memberikan kesejahteraan dan bantuan bagi warganya yang memerlukan; mampu menampung segala sesuatu yang datang kepadanya, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan; gigih dalam mengalahkan musuh dan dapat memberikan pelita bagi warganya.”

2. Beberapa versi rumusan Asta Brata

a. Menurut Yasadipura I ((1729-1803 M) dari keraton Surakarta: “Asta Brata adalah delapan prinsip kepemimpinan sosial yang meniru filosofi / sifat alam, yaitu:

    1. Mahambeg Mring Kismo (meniru sifat bumi)
   Seperti halnya bumi, seorang pemimpin berusaha untuk setiap saat menjadi sumber kebutuhan hidup bagi siapa pun. Dia mengerti apa yang dibutuhkan oleh rakyatnya dan memberikan kepada siapa saja tanpa pilih kasih. Meski selalu memberikan segalanya kepada rakyatnya, dia tidak menunjukkan sifat sombong/angkuh.

    2. Mahambeg Mring Warih (meniru sifat air)
        Seperti sifat air, mengalir dari tinggi ke tempat yang lebih rendah dan sejuk/dingin. Seorang pemimpin harus bisa menyatu dengan rakyat sehingga bisa mengetahui kebutuhan riil rakyatnya. Rakyat akan merasa sejuk, nyaman, aman, dan tentram bersama pemimpinnya. Kehadirannya selalu diharapkan oleh rakyatnya. Pemimpin dan rakyat adalah mitra kerja dalam membangun persada tercinta ini. Tanpa rakyat, tidak ada yang jadi pemimpin, tanpa rakyat yang mencintainya, tidak ada pemimpin yang mampu melakukan tugas yang diembannya sendirian.

     3. Mahambeg Mring Samirono (meniru sifat angin)
    Seperti halnya sifat angin, dia ada di mana saja/tak mengenal tempat dan adil kepada siapa  pun. Seorang pemimpin harus berada di semua strata/lapisan masyarakatnya dan bersikap adil, tak pernah diskriminatif (membeda-bedakan).

4. Mahambeg Mring Condro (meniru sifat bulan)
         Seperti sifat bulan, yang terang dan sejuk. Seorang pemimpin mampu menawan hati rakyatnya dengan sikap keseharian yang tegas/jelas dan keputusannya yang tidak menimbulkan potensi konflik. Kehadiran pemimpin bagi rakyat menyejukkan, karena aura sang pemimpin memancarkan kebahagiaan dan harapan.

5. Mahambeg Mring Suryo (meniru sifat matahari)
    Seperti sifat matahari yang memberi sinar kehidupan yang dibutuhkan oleh seluruh jagat. Energi positif seorang pemimpin dapat memberi petunjuk/jalan/arah dan solusi atas masalah yang dihadapi rakyatnya.

6. Mahambeg Mring Samodra (meniru sifat laut/samudra)
        Seperti sifat lautan, luas tak bertepi, setiap hari menampung apa saja (air dan sampah) dari segala penjuru, dan membersihkan segala kotoran yang dibuang ke pinggir pantai. Bagi yang memandang laut, yang terlihat hanya kebeningan air dan timbulkan ketenangan. Seorang pemimpin hendaknya mempunyai keluasan hati dan pandangan, dapat menampung semua aspirasi dari siapa saja, dengan penuh kesabaran, kasih sayang, dan pengertian terhadap rakyatnya.

7. Mahambeg Mring Wukir (meniru sifat gunung)
         Seperti sifat gunung, yang teguh dan kokoh, seorang pemimpin harus memiliki keteguhan-kekuatan fisik dan psikis serta tidak mudah menyerah untuk membela kebenaran maupun membela rakyatnya. Tetapi juga penuh hikmah tatkala harus memberikan sanksi. Dampak yang ditimbulkan dengan cetusan kemarahan seorang pemimpin diharapkan membawa kebaikan seperti halnya efek letusan gunung berapi yang dapat menyuburkan tanah.

8. Mahambeg Mring Dahono (meniru sifat api)
    Seperti sifat api, energi positif seorang pemimpin diharapkan mampu menghangatkan hati dan membakar semangat rakyatnya mengarah kepada kebaikan, memerangi kejahatan, dan memberikan perlindungan kepada rakyatnya.

b. Menurut Serat Aji Pamasa (Pedhalangan) karya Raden Ngabehi Rangga Warsita. Pemimpin dituntut ngerti, ngrasa, dan nglakoni (Tri-Nga) 8 (delapan) watak alam. Hasta berarti delapan, brata berarti laku atau watak.

1.  Watak Surya atau srengenge (matahari); sareh sabareng karsa, rereh ririh ing pangarah.
2. Watak Candra atau rembulan (Bulan); noraga met prana, sareh sumeh ing netya, alusing budi jatmika, prabawa sreping bawana.
3. Watak Sudama atau lintang (Bintang); lana susila santosa, pengkuh lan kengguh andriya. Nora lerenging ngubaya, datan lemeren ing karsa. Pitayan tan samudana, setya tuhu ing wacana, asring umasung wasita. Sabda pandhita ratu tan kena wola wali.
4. Watak Maruta atau angin (Udara yang bergerak); teliti setiti ngati-ati, dhemen amariksa tumindake punggawa kanthi cara alus.
5. Watak Mendhung atau mendhung (Awan hujan); bener sajroning paring ganjaran, jejeg lan adil paring paukuman.
6. Watak Dahana atau geni atau latu (Api); dhemen reresik regeding bawana, kang arungkut kababadan, kang apateng pinadhangan.
7. Watak Tirta atau banyu atau samodra (Air); tansah paring pangapura, adil paramarta. Basa angenaki krama tumraping kawula.
8. Watak pratala atau bumi atau lemah (Tanah); tansah adedana lan karem paring bebungah marang kawula.

c. Menurut lakon Wahyu Makutharama, diajarkan oleh Begawan Kesawasidi (Prabu Kresna) kepada Raden Arjuna, sebagai berikut:

1. “kapisan bambege surya, tegese sareh ing karsa, derenging pangolah nora daya-daya kasembadan kang sinedya. Prabawane maweh uriping sagung dumadi, samubarang kang kena soroting Hyang Surya nora daya-daya garing. Lakune ngarah-arah, patrape ngirih-irih, pamrihe lamun sarwa sareh nora rekasa denira misesa, ananging uga dadya sarana karaharjaning sagung dumadi.

2. Kapindho hambege candra yaiku rembulan, tegese tansah amadhangi madyaning pepeteng, sunare hangengsemake, lakune bisa amet prana sumehing netya alusing budi anawuraken raras rum sumarambah marang saisining bawana.

3. Katelu hambeging kartika, tegese tansah dadya pepasrening ngantariksa madyaning ratri. Lakune dadya panengeraning mangsa kala, patrape santosa pengkuh nora kengguhan, puguh ing karsa pitaya tanpa samudana, wekasan dadya pandam pandom keblating sagung dumadi.

4. Kaping pate hameging hima, tegese hanindakake dana wesi asat; adil tumuruning riris, kang akarya subur ngrembakaning tanem tuwuh. Wesi asat tegese lamun wus kurda midana ing guntur wasesa, gebyaring lidhah sayekti minangka pratandha; bilih lamun ala antuk pidana, yen becik antuk nugraha.

5. Kalima ambeging maruta, werdine tansah sumarambah nyrambahi sagung gumelar; lakune titi kang paniti priksa patrape hangrawuhi sakabehing kahanan, ala becik kabeh winengku ing maruta.

6. Kaping nem hambeging dahana, lire pakartine bisa ambrastha sagung dur angkara, nora mawas sanak kadang pawong mitra, anane muhung anjejegaken trusing kukuming nagara.

7. Kasapta hambeging samodra, tegese jembar momot myang kamot, ala becik kabeh kamot ing samodra; parandene nora nana kang anabet. Sa-isene maneka warna, sayekti dadya pikukuh hamimbuhi santosa.

8. Kaping wolu hambeging bantala, werdine ila legawa ing driya; mulus agewang hambege para wadul. Danane hanggeganjar myang kawula kang labuh myang hanggulawenthah.

C. NILAI DAN TELADAN

a. Relevansi Asta Brata dengan ajaran serupa di dunia Internasional.
    Ada banyak rumusan Asta Brata. Bahkan, pernah dijadikan pelajaran wajib di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas). Apakah ajaran ini bersifat Universal, dalam arti tidak hanya dihayati bangsa Indonesia saja? Ternyata, memang benar. Ajaran Asta Brata bersifat Universal, dikenal pula di belahan dunia yang lain, walau pun berbeda sebutan dan rumusannya. Berupa apa sifat ajaran Universalnya? Yaitu, bahwa manusia harus hidup selaras dengan alam. Di Negeri China, Korea, dan Jepang dikenal “Fengshui” (harfiahnya Angin dan Air), yang berlandaskan teori lima proses: Logam, Kayu, Tanah, Air, dan Api.

Di anak benua India, dikenal pula Teori 5 Unsur: Api, Tanah, Air, Udara (Angin) dan Ruang.
Mengapa hanya lima? Berarti ajaran Asta Brata lebih lengkap? Ternyata, tidak sesederhana itu.
Perhatikan, adakah unsur “Ruang” dalam ajaran Asta Brata? Tanpa ruang, di manakah unsur-unsur alam itu berada? Artinya, tidak semua yang terlihat berbeda itu benar-benar berbeda. Perluaslah wawasan kita untuk bisa melihat, bahwa ada kesamaan di antara perbedaan.

b. Esensi Makna Asta Brata
    Asta Brata bukan hanya berlaku bagi para pemimpin saja. Setiap manusia, seyogyanya mengamalkannya, dalam arti “hidup selaras dengan alam”, dan “menjalankan peran yang diembannya, sehingga memberi manfaat bagi sesama”. Seorang pemimpin yang tidak mampu melaksanakan Asta Brata bagai raja tanpa mahkota. Sebaliknya, rakyat jelata yang dalam hidupnya mampu melaksanakan Asta Brata, berarti ia adalah rakyat jelata yang bermahkota, dialah manusia yang luhur budi pekertinya. “Dapat memberikan kesejukan dan ketentraman kepada warganya; membasmi kejahatan dengan tegas tanpa pandang bulu; bersifat bijaksana, sabar, ramah dan lembut; melihat, mengerti dan menghayati seluruh warganya; memberikan kesejahteraan dan bantuan bagi warganya yang memerlukan; mampu menampung segala sesuatu yang datang kepadanya, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan; gigih dalam mengalahkan musuh dan dapat memberikan pelita bagi warganya.” (http://budayaleluhur.blogspot.com-Warisan Adiluhung)


Jumat, 17 Agustus 2012

Syeh Siti Jenar Versi Negara Kertabumi


Jumat, 17 Agustus 2012-Denmas Priyadi Blog:  Cerita eksekusi Syeh Siti Jenar versi Serat Negara Kertabumi berbeda dengan versi-versi lain yang biasa kita baca dan saksikan dalam buku-buku maupun film. Hal ini sebagaimana suntingan Rahman Sulendraningrat dalam buku "Siti Jenar-Cikal Bakal Faham Kejawen" tulisan YB. Prabaswara, halaman 32-34:

    "Seperti juga versi Jawatengahan, sastra Kacirebonan ini menceritakan bahwa para pengikut Syeh Siti Jenar di Cirebon merupakan kelompok oposisi atas kekuatan kasultanan Cirebon. Beberapa tokoh pimpinan kelompok ini pernah mencoba untuk merebut tahta tapi tak pernah berhasil. Ketika Pengging dilumpuhkan, Syeh Siti Jenar yang pada waktu itu menyebarkan ajarannya di sana kembali ke Cirebon dan diikuti oleh para pengikutnya dari Pengging. Di sini, kekuatan Syeh Siti Jenarmenjadi kokoh, pengikutnya meluas dan menyebar sampai ke desa-desa. Setelah Syeh Datuk Kahfi wafat, Sultan Cirebon meminta Pangeran Punjungan untuk menjadi guru agama Islam di Amparan Jati. Pangeran Punjungan bersedia, tetapi ia tidak mendapat murid karena orang-orang sudah menjadi murid Syeh Siti Jenar termasuk Panglima bala tentara Cirebon, Pangeran Carbon. Dijaga oleh para murid-muridnya  sangat setia itu, Syeh Siti Jenar aman tinggal di Cirebon.

     Berita ini sampai ke telinga Sultan Demak, bahwa musuhnya berada di Cirebon. Sultan Demak lalu mengutus Sunan Kudus disertai 700 prajurit menuju Cirebon. Sultan Cirebon menerima permintaan Sultan Demak dengan tulus, bahkan memberi bantuan untuk tujuan itu.

     Langkah pertama Sultan Cirebon adalah mengumpulkan para murid utama Syeh Siti Jenar  antara lain, Pangeran Carbon, para Kyai Geng, Ki Palumba, Adipati Cangkuang, dan beberapa orang istana Pangkuangwati. Selajutnya bala tentara Cirebon dan Demak bergerak menuju Padepokan Syeh Siti Jenar di Cirebon Girang. Syeh Siti Jenar kemudian ditangkap dan dibawa ke Masjid Agung Cirebon untuk diadili. di sana para ulama telah berkumpul.
    
     Sunan Gunung Jati Gunung Jati bertindak sebagai hakim ketua. Melalui perdebatan yang panjang, pengadilan memutuskan bahwa Syeh Siti Jenar bersalah besar, dan pengadilan memutuskan bahwa Syeh Siti Jenar mendapat hukuman mati. Selang beberapa waktu, akhirnya Syekh Siti Jenar dieksekusi mati oleh Sunan Kudus dengan keris pusaka Sunan Gunung Jati. peristiwa ini terjadi pada bulan Safar, tahun 923 H atau 1506 Masehi. 
 

Mayat Syeh Siti Jenar lalu dimakamkan di suatu tempat yang tidak diketahui.  Akan tetepi lama kelamaan  orang dapat mengetahui  tempat tersebut. Merekapun terutama para pengikut dan murid-murid Syeh Siti  Jenar, mereka berdatangan  berziarah ke makam  Syeh Siti Jenar. Para peziarah itu ada yang datang dari Cirebon, Jakarta, Banten, Parahiyangan,  Jawa Timur, dan bahkan dari Semenanjung Malaya. Melihat kenyataan ini Sunan Gunung Jati  memerintahkan kepada segenap kawulanya agar memindahkan secara diam-diam mayat Syeh Siti Jenar ke suatu tempat yang sangat dirahasiakan.  Mayat Syeh Siti Jenar diganti dengan bangkai seekor anjing hitam. Pada waktu para peziarah, terutama pengikut dan murid-murid Syekh Siti Jenar menghendaki agar mayat Syekh Siti Jenar dipindahkan ke Jawa Timur. Makampun digali kembali, apa yang terlihat? Ternyata mayat Syekh Siti Jenar tidak ada yang ada hanyalah bangkai seekor anjing hitam. Para peziarahpun sangat terkejut, haran dan tidak mengerti mengapa mayat Syeh Siti Jenar berubah menjadi bangkai seekor anjing hitam. Mereka beranggapan kalau mayat syekh Siti Jenar telah berubah menjadi seekor anjing. Menyikapi keadaan seperti ini sultan Cirebon kemudian mengeluarkan instruksi agar para peziarah, dan para pengikut ajaran Syeh Siti  Jenar tidak  menziarahi bangkai seekor anjing dan segera meninggalkan ajaran Syeh Siti Jenar  sesat”.
  


     

Sabtu, 11 Agustus 2012

Manfaat Air Kelapa by Rahimsyah AR



Air Kelapa
Buah Kelapa
 SABTU, 11 AGUSTUS 2012-DENMAS PRIYADI BLOG:    Luka koreng banyak diderita baik oleh anak-anak maupun orang dewasa. jika tidak segera diobati lukanya akan semakin membesar dan rasanya nyeri sekali. Awalnya luka koreng ini berupa bintik-bintik kecil sebesar kacang tunggak, tumbuh di sekitar tubuh terutama pada kaki, dan rasanya gatal sekali. Oleh karena terus menerus digaruk bintik-bintik koreng tadi lama kelamaan menjadi besar dan lukanya semakin melebar. Apabila anda mengalami hal seperti ini, jangan khawatir! Caranya mudah dan murah!

     Basuh luka koreng anda dengan air kelapa. Biarkan sampai kering, lalu baru dibasuh dengan air dingin. Jika anda melakukannya secara rutin,Insya Allah luka koreng anda akan hilang tidak berbekas. Selain dengan cara tersebut, anda bisa juga melakukannya dengan menggunakan salep yang terbuat dari buah kelapa. Beginilah cara membuatnya!

     Satu buah kelapa dibelah dua, lalu dibakar sampai hangus seperti arang. Kelapa yang sudah hangus menyerupai arang tersebut kemudian ditumbuk sampai halus benar. setelah itu campur dengan dua sendok makan minyak kelapa. Aduklah sampai bentuknya menyerupai salep. Gunakan salep tersebut untuk mengobati luka koreng anda. Selamat mencoba!

Kamis, 02 Agustus 2012

“BERDIRINYA KERAJAAN INDRAPRASTA” by Sita



            SABTU, 7 APRIL 2012 - SITA BLOG - Diceritakanlah ketika  Dewa Agni yang menyamar sebagai brahmana meminta bantuan kepada Sri Kresna dan Arjuna yang pada saat itu sedang asyik mengobrol sambil menikmati indahnya panorama alam di tepian sungai Yamuna. Adapun bantuan yang diinginkan oleh Dewa Agni kepada Sri Kresna dan Arjuna adalah membakar hutan Kandawa yang dilindungi oleh Batara Indra. Karena menurut petunjuk yang diperolehnya setelah bersamadi memohon petunjuk pada Hyang Brahma, bahwa yang bisa menolong Dewa Agni untuk membakar hutan Kandawa untuk mencari sejenis tumbuh-tumbuhan bernama “Latamausadi” yang terdapat di hutan tersebut, adalah Narayana dan Nara yang telah menjelma kepada Sri Kresna dan Arjuna.

            “Wahai sang Nara dan Narayana yang sakti mandraguna, terus terang saya sangat membutuhkan pertolongan tuan-tuan untuk mendapatkan Latamausadi di hutan Kandawa, oleh karena menurut petunjuk Sang Batara Brahma, hanya tuan berdualah yang sanggup membantu saya untuk membakar hutan Kandawa yang dilindungi oleh Batara Indra itu!” Pinta Batara Agni kepada Arjuna dan Sri Kresna.

            Mendengar penuturan yang penuh harap dari Dewa Agni, akhirnya Arjuna dan Sri Kresna mengabulkan permintaan Dewa Agni. Tak lama kemudian, dengan bantuan dan perlindungan dari Arjuna dan Sri Kresna, Dewa Agni membakar hutan Kandawa sampai luluh lantak, habis terbakar semua dalam waktu tidak lebih dari satu setengah bulan. Menurut cerita hanya tersisa enam penghuni hutan yang selamat dari amukan dan kesaktian senjata Arjuna dan Sri Kresna mereka adalahdi, raksasa Maya, Aswasena, dan empat ekor burung Sarngaka.
 
            “Wahai tuan-tuan sang Nara dan Narayana yang sakti mandraguna, tuan-tuan telah banyak menolong saya, berbuat sesuatu untuk membantu saya mendapatkan Latamausadi. Tanpa bantuan tuan-tuan berdua tentu saya tak bisa membakar hutan Kandawa yang sedemikian luas, dan tidak mungkin berhasil mendapatkan Latamausadi, oleh karena itu mintalah kepadaku, apa saja yang tuan-tuan inginkan sebagai balas budi saya kepada tuan-tuan?!”  kata Dewa Agni kepada Arjuna dan Sri Kresna dengan sungguh-sungguh.

            “Baiklah!  Arjuna Menjawab, “Jika demikian, berikanlah kepada kami berdua semua senjata sakti yang dimiliki Batara Indra!” Dewa Agni menyanggupi dan mengabulkan permintaan Arjuna sambil berkata, 
            “Kalian berdua adalah harimau di antara manusia. Ke mana saja kalian pergi, kalian akan seperti harimau!”  Dewa Agni pun menghilang dari pandangan Arjuna dan Sri Kresna.   

            Selanjutnya Arjuna dan Sri Kresna melanjutkan perjalanannya, hanya raksasa Maya yang diajaknya serta menemani pengembaraannya. Ketika sampai di tepi sungai Yamuna yang elok nan permai itu, mereka beristirahat untuk melepaskan lelah. Pada saat itu raksasa Maya sambil membungkuk berkata kepada Arjuna,
            “Tuanku Arjuna, karena tuan telah menyelamatkan hamba dari panasnya amukan api di hutan Kandawa, maka katalah kepada hamba, apa yang tuan inginkan dari hamba?”
            “Sudahlah, Maya! Jangan kamu pikirkan itu, sekarang kamu bebas untuk pergi sesuka hatimu, akan tetapi ingatlah! Kamu harus bersikap baik dan ramah kepada semua orang”. Jawab Arjuna kepada raksasa Maya.

            “Tuanku Arjuna, katakanlah sekali lagi! Apa yang tuan inginkan dari hamba, terus terang hamba ini orang yang ahli dalam hal bangunan”. Desak raksasa Maya kepada Arjuna.
            “Maya, terus terang aku sama sekali tidak mengharapkan balas budi apapun darimu. Perkataanmu bahwa aku telah menyelamatkanmu, itu sudahlah cukup. Akan tetapi jika engkau mendesak tentu aku tidak akan menolak, sekarang tanyakanlah kepada kanda Sri Kresna!” Arjuna mengulangi pernyataanya kepada raksasa Maya.

            Mendengar ini Sri Kresna tak menyia-nyiakan kesempatan ini, segera ia menghampiri raksasa Maya kemudian berkata sambil berbisik di telinga Maya, 

            “Bagunlah sebuah istana yang megah dan indah di Indraprasta ini, yang kemegahannya dan keindahannya tidak ada yang menyamai dan di seantero muka bumi ini”.
 
            Raksasa Maya yang memang ahli dalam membuat bangunan, dengan segala kesaktiannya segera membangun sebuah istana yang indah dan megah di Indraprasta. Dalam waktu satu tahun dua bulan, di Indraprasta telah berdiri sebuah istana kerajaan yang begitu indah dan megah yang keindahan dan kemegahannya tidak ada yang menyamai bahkan tidak kalah keindahannya dengan istana para dewa-dewa sekalipun. Untuk merayakan upacara penyerahan istana kerajaan Indraprasta, Sri Kresna menyarankan kepada ke Lima Pandawa  agar terlebih dahulu menaklukkan kerajaan-kerajaan yang dahulunya acapkali jenindas dan menjajah negeri-negeri lain yang berada di sekitar Indraprasta. Ke lima tokoh Pandawa menerima saran Sri Kresna, maka merekapun saling berbagi tugas,
-                     Yudistira menjadi raja di Indraprasta
-                      Bima menaklukkan negeri-negeri yang berada di sebelah Timur,
-                      Arjuna menanklukkan negeri-negeri yang berada di sebelah Utara
-                      Nakula menaklukka negeri-negeri yang berada di sebelah Barat
-                      Sadewa menaklukkan negeri-negeri yang berada di sebelah Selatan

Setelah berhasil menaklukkan negeri-negeri yang berada di daerah sekitar Indraprasta, ke lima tokoh Pandawa bersama Sri Kresna mengadakan upacara syukuran dan selamatan untuk memuliakan kraton Indraprasta dengan rajanya yaitu Yudistira putera tertua dari Pandawa Lima. Banyak dari para raja-raja sekitar yang hadir pada perayaan upacara berdirinya kerajaan Indraprasta yang indah dan megah tersebut, tek terkecuali raja dari para Kurawa negeri Astina, Prabu Duryudana dan patih Sangkuni. Mereka rata-rata semuanya berdecak kagum akan keindahan dan kemegahan Indraprasta.

Sekian
             

Minggu, 22 Juli 2012

AGAR VAGINA MENJADI PERET


Buah pinang
MINGGU, 22 JULI 2012 – DENMAS PRIYASI BLOG:Pusat aktifitas seks dari wanita adalah vagina.  Untuk itu agar hubungan suami istri tetap langgeng, terjaga dan selalu harmonis salah satunya adalah sang istri selalu  menjaga kesegaran vaginanya. Sudah menjadi kebiasaan bagi laki-laki ( suami ) selalu ingin mencari kepuasan dalam pemenuhan biologisnya. Nah, berkait dengan hal ini untuk kepuasan sang suami sebaiknya sang istri selalu berupaya agar vaginanya tetap segar, berbau harum dan menyempit, sebab vagina yang menyempit atau peret akan terasa nikmat bagi sang suami saat  melakukan aktifitas seksnya.
Agar vagina anda menjadi sempit dan peret, anda  bisa  mengkonsumsi ramuan berikut dengan membuatnya sendiri, dan inilah resepnya: 

1.      Kupaslah buah pinang lalu ambil kulitnya, secukupnya saja.  Kemudian rendamlah dalam air yang bersih.
2.      Petik daun sirih yang bertemu uratnya sebanyak 13 lembar.  Tumbuk sampai halus kemudian masukkan kedalam rendaman kulit pinang.
3.      Tiga butir gambir ditumbuk sampai halus lalu campurkan dengan rendaman air kulit pinang dan daun sirih temu urat tadi.
4.      Kapur  putih bersih secukupnya yang sudah diayak terlebih dahulu.

Campur dan aduklah ke empat bahan ramuan tersebut di atas sampai benar-benar merata.  Diamkan selama kira-kira 15 menit agar ramuannya mengendap. Setelah didiamkan selama 15 menit ambil airnya saja, dan basuhkan air ramuan tersebut secara berulang-ulang ke vagina anda sampai vagina anda menjadi sempit dan peret.  Jadilah istri yang benar-benar bisa membahagiakan sang suami dengan memiliki vagina yang sehat, segar , peret, sempit dan legit. Selamat mencoba! [ <SP> ]  



Selasa, 13 Desember 2011

"PENGASIHAN MENUNDUKKAN PEJABAT" by Ki Wongso Pandji indrajit

Jika anda seorang pegawai suatu perusahaan atau pegawai pada instansi pemerintah dan selalu kena marah atasan, maka mantra di bawah ini bila dibaca sewaktu masuk kantor, bisa menundukkan atasan anda.

Atau bila anda ingin disayangi dengan atasan anda bacalah mantra di bawah ini, dengan persyaratan sebagai berikut :

*  Puasa mutih 7 hari
*  Puasa Senin - Kamis yang dimulai pada hari Senin.

Adapun mantra waktu menghadap atasan adalah sebagai berikut :

" Bismillahirohmanirrohim"
Sir hu bakaling manungsa
Sir dhaweg lagining toya,
Sir lanang lagining sirna,
Sir rasa lengser buana lagi sira lair,
Sir ingsung bakaling ratu,
Sir tandhaning jaya bakaling pandhita,
Kudu kaduh bakaling jeksa,
Urip sira tekaning mabar buana,
Urip sapiyang burba langgeng,
Sang kulimat putih bakaling wong,
Padha sujud, padha madep mareng aku.

Minggu, 04 Desember 2011

VARISES DAN OBAT TRADISIONALNYA by Gatot M - Rahimsyah AR

Varises meskipun bukan jenis penyakit berbahaya, namun cukup menyiksa penderita, selain itu kakipun nampak jelek untuk dipandang karena urat-urat kaki menonjol begitu banyak. Penyakit Varises banyak diderita kaum wanita hamil dan wanita yang sehabis melahirkan. Varises disebabkan keberadaan pembuluh-pembuluh darah balik yang berada di bawah kulit melebar. Keadaan seperti ini biasanya terjadi ditungkal bawah bagian kaki.

Varises juga bisa disebabkan oleh karena berdiri yang terlalu lama, penggunaan pakaian yang terlalu ketat, dan juga bisa disebabkan oleh olah raga yang berlebihan, seperti berlari atau mengayuh sepeda dan langung duduk. Adapun upaya pengobatan tradisionalnya bisa mencoba tips  tradisional berikut :

a. Sering melalap daun suruhan yang masih segar, atau bisa juga segenggam daun suruhan direbus atau dibuat sayur bening yang kemudian airnya diminum secara rutin, dan ampasnyapun dimakan.
b. Minumlah cuka satu sendok makan yang dicampur dengan madu asli satu sendok makan lalu aduk sampai merata benar baru kemudian diminum.
c. Makanlah bawang putih mentah sebagai lalaban. Sekali makan 3 atau 4 siung besar.

Demikianlah, semoga bermanfaat, dan Tuhan memberikan kesembuhan penyakit anda! [ Referensi : Buku PIJAT REFLEKSI DAN RESEP RAMUAN TRADISIONAL, Gatot M. Sahid Anwar & MB. Rahimsyah AR - Penerbit Bintang Usaha Jaya - Surabaya